Bali Menanti ‘Booming’ Wisata Spiritual

Bali Menanti ‘Booming’ Wisata Spiritual

Sejak awal pengembangannya, sektor pariwisata Bali selalu melekat dengan budaya serta adat istiadat masyarakat Bali. Hal itu pula yang membuat Bali sangat dikenal dengan pariwisata budayanya. Sejalan dengan itu, ide pengembangan wisata spiritual belakangan mulai banyak diwacanakan. Bahkan ada yang memprediksikan wisata spiritual akan segera ‘booming’ dalam beberapa tahun ke depan. Benarkah?

ENTAH kenapa, wacana pengembangan wisata spiritual tampaknya makin menguat sejak beberapa tahun belakangan. Setidaknya, rencana pengembangan wisata spiritual sempat merebak di banyak kawasan, baik itu Kabupaten Karangasem, Bangli, Buleleng, atau yang lainnya. Semua wilayah menyatakan diri sebagai kawasan yang paling potensial.
Wajar memang, karena semua wilayah memang menyimpan potensi yang sama besar. Karangasem menilai pengembangan wisata spiritual di wilayahnya akan sangat potensial, mengingat keberadaan Pura Besakih sebagai pura terbesar di Indonesia. Sementara Bangli menilai wilayahnya pas untuk pengembangan wisata spiritual karena keberadaan Pura Batur serta kondisi geografis yang sejuk dan berbukit. Alasan senada juga pernah diungkapkan Bupati Buleleng, Bagiada, yang menyatakan konsep ‘nyegara gunung’ di wilayahnya sebagai pendukung kuat bagi pengembangan wisata itu.
Kentalnya nuansa magis di sebagian besar obyek wisata di Bali, tentu saja menjadi faktor pendukung yang cukup kuat dalam pengembangan wisata spiritual. Hal itu pula yang diakui Ketua BPD Putri Bali, Ketut Nuryasa. Ketua perhimpunan pengelola obyek wisata itu menjelaskan, Bali memiliki potensi yang sangat besar bagi pengembangan wisata spiritual. Hal itu disebabkan karena banyaknya faktor pendukung, terutama akibat daya magis yang sangat tinggi di hampir semua obyek wisata di Bali.
Sebutan ‘Pulau Seribu Pura’ yang diberikan kepada Bali, menjadi kekuatan tersendiri bagi pengembangan wisata spiritual di wilayah ini. Setidaknya, sebutan itu diberikan bukan tanpa alasan. Nuryasa menyebutkan, lebih dari separuh daya tarik wisata yang ada di pulau ini, berupa Pura. Itu berarti Bali telah memiliki basik yang sangat kuat bagi pengembangan wisata spiritual.
Diakui, pengembangan wisata spiritual sejauh ini belum terlihat konkrit. Hal itu karena pengembangannya belum optimal. Dikatakan, ada beberapa pengusaha yang sudah menekuni wisata spiritual tersebut, meski jumlahnya sangat minim. Jumlahnya yang minim itulah yang membuatnya seolah tenggelam. Dengan basik spiritual yang sangat kuat, ditambah pengelolaan yang baik, pihaknya yakin wisata spiritual akan segera ‘booming’ di tahun-tahun mendatang. “Sekarang mungkin belum kelihatan. Tapi sudah ada beberapa pengusaha yang terjun ke sana (wisata spiritual). Nanti pelan-pelan baru akan kelihatan dan pasti ‘booming’. Sama lah dengan wisata Spa yang sekarang semakin banyak dan ‘booming’. Wisata spiritual pasti akan segera booming,” tegasnya.
Meski wisata spiritual sangat erat kaitannya dengan adat istiadat serta agama Hindu di Bali, Nuryasa memastikan booming wisata tersebut tidak akan merusak sendi-sendi budaya di Bali. Menurut Nuryasa, pelaku usaha wisata spiritual dengan sendirinya akan memperhatikan adat istiadat sekitarnya. Hal itu karena wisata spiritual sangat erat kaitannya dengan keutuhan adat, istiadat dan norma yang dipegang masyarakat etempat. Lebih dari itu, komunikasi yang baik antara pengusaha dan adat, merupakan kunci untuk menjawab kekhawatiran itu. “Yang penting ada koordinasi yang baik dengan desa adat. Saya yakin tidak akan ada masalah. Malah akan ada hubungan saling menguntungkan antara keduanya,” tegas Nuryasa.
Tingginya potensi pengembangan wisata spiritual yang dimiliki Bali, juga diakui Ketua Asita Bali, Gusti Agung Prana. Dikatakan, target wisatawan asing saat berwisata, kini mulai bergeser ke arah wisata yang tenang dan rileks. Selain mencari kawasan-kawasan tenang tanpa suara gaduh seperti persawahan atau pantai yang belum banyak dijamah, wisatawan asing kini juga cenderung mencari jenis wisata spiritual. Bila dikembangkan dengan serius, wisata spiritual di Bali dipastikan akan segera berkembang pesat.

Meditasi Dalam Kemasan Wisata
MESKI ada banyak alternatif bentuk wisata spiritual, namun pengembangan wisata meditasi dipastikan akan sangat sesuai bagi Bali. Hingga saat ini, wisata meditasi telah digarap dengan sukses oleh beberapa pengusaha di Bali.
Menurut Gusti Agung Prana yang telah menggarap wisata meditasi itu, respon dari para wisata asing sangat bagus. Agung Prana yang menyebut wisatanya sebagai terapi ‘ajur vedic’, mengaku sangat gembira dengan hasil yang diperoleh. Pasar wisatawan asal Amerika, menurutnya menjadi pasar yang cukup potensial bagi pengembangan wisata meditasi. Dikatakan, pasar Amerika sekarang mulai mengarah ke wisata spiritual dan petualangan (adventure). “Akhir-akhir ini, pasar Amerika cenderung mencari wisata spiritual dan adventure,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua BPD Putri Bali, Ketut Nuryasa menjelaskan, wisata meditasi sangat cocok untuk dikembangkan di Bali. Kondisi geografis Bali, sangat memungkinkan bagi pengembangan wisata meditasi. Tentang kemampuan masyarakat Bali sendiri untuk menjadi instruktur pengembangan wisata meditasi itu, Nuryasa mengaku yakin.
Pasar yang bisa digarap untuk pengembangan wisata meditasi, menurutnya sangat luas. Dikatakan, sejauh ini wisatawan yang cenderung penggemar wisata spiritual berasal dari India dan Inggris. Namun dalam perkembangannya, dipastikan akan banyak segmen pasar yang bergeser ke wisata spiritual.
Berbeda dengan Prana dan Nuryasa yang sangat yakin dengan pengembangan wisata meditasi, pelaku pariwisata Bagus Sudibya justru mengaku sedikit was-was dengan hal itu. Di satu sisi, Sudibya mengaku sangat yakin dengan potensi wisata spiritual yang ada. Namun di sisi lain, ia khawatir dengan pengelolaannya. Pihaknya khawatir bila pengembangan wisata meditasi itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak kompeten di bidang tersebut. “Permasalahannya, apakah kita benar-benar bisa mengajarkan meditasi yang baik ke mereka (wisatawan asing). Jangan-jangan mereka sudah jauh lebih tahu tentang meditasi. Jadi SDM yang diterjunkan harus benar-benar mampu dan serius. Kesalahan sedikit saja, bisa merusak citra,” tegas Sudibya. [Ni Komang Erviani / pernah dimuat di Harian Warta Bali]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s