Narkoba Ringan di Sekitar Kita

“Penderitanya gemetar, gugup, dan kehilangan kendali. Ia mengalami agitasi dan depresi. Ia kelihatan lelah dan lemas. Jika digabung zat lain, penambahan dosis zat ini untuk sementara dapat melegakan. Tetapi bisa mengakibatkan penderitaan di masa depan. Narkoba jenis apa yang menyebabkan itu?” tanya Annie Bleeker dalam pelatihan informasi dan intervensi narkoba di Denpasar awal Juli 2005 lalu.

Pertanyaan pembicara dari pusat penelitian narkoba dan alkohol Universitas New South Wales Australia itu direspon beragam oleh peserta polisi, staf pendidik, petugas kesehatan, dan lainnya. Ada yang teriak ganja, morphin, ekstasi, putaw. Tapi semua salah. “Kopi,” tegas Annie singkat, mengundang tanda tanya besar peserta.

Ya, selama ini memang banyak salah pengertian tentang definisi narkoba. Orang selalu membayangkan obat-obatan yang spesifik, mahal, dan selalu jadi target operasi polisi. Padahal banyak narkoba yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti alkohol, kopi, bahkan teh sekalipun. Kandungan kafein yang terkandung dalam kopi dan teh, menjadikannya termasuk dalam golongan narkoba. Namun efek yang dihasilkan teh cenderung lebih ringan karena kandungan kafeinnya sangat sedikit. Sementara itu, kopi memberi pengaruh yang sangat cepat terhadap syaraf pusat.

Sejak diperkenalkan bangsa Turki pada tahun 1453 lalu, jelas Annie, kopi kini sudah menjadi salah satu narkoba yang paling populer di masyarakat. Popularitas kopi tak terlepas dari keputusan banyak negara yang melarang konsumsi alkohol sehingga kopi kemudian menjadi alternatif pilihan pengganti. Tapi jangan khawatir, kopi baru berbahaya bila diminum dalam dosis tinggi, yakni 10 gram sehari. Sedangkan dalam satu cangkir kopi, hanya terdapat sekitar 60-80 mg kafein.
Dalam pelatihan seminggu itu, para peserta dibuka mata dan pikirannya untuk mengenali semua jenis narkoba secara lebih mendalam. Menurut Annie, semua jenis narkoba punya karakteristik berbeda. Ganja misalnya, tak pernah menimbulkan kasus over dosis. “Pengguna ganja baru over dosis kalau makan 8 kg ganja. Padahal baru makan 1 kg saja sudah pingsan,” Annie mencontohkan.

Pada sesi akhir pelatihan yang diselenggarakan Badan Narkotika Propinsi (BNP) Bali dengan Indonesia Australia Specialized Training Project Phase III itu, para peserta juga diajak berdiskusi tentang rencana tindak lanjut. Usul yang diajukan beragam. Namun tak jauh dari program komunikasi, informasi dan edukasi (KIE). Ada yang menyasar sekolah, kafe, instansi kepolisian, dan lainnya. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 7, Agustus 2005]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s