Kadek Moyonk: Saya Buktikan, Ternyata Bisa…

Sejak kecil saya termasuk pintar cari duit. SMP kelas 1, saya sudah bisa cari duit sendiri di Pantai Kuta. Saya kebetulan nongkrongnya daerah pariwisata, jadi yang namanya pake cimeng itu sudah lumrah. Cuma saya ditawari alkohol nggak pernah mau.Waktu itu saya cuma ngerokok.

Saya pertama kenal sama obat-obatan waktu SMP kelas 3. Jenisnya kayak obat-obatan biasa di apotek. Itu obat dokter, tapi saya buat resep sendiri. Sejak itu saya mulai campur-campur. Sebenarnya minumnya kan 1 kali sehari. Tapi saya pertama minum langsung dua. Terus lagi lima menit, minum lagi. Itu juga minumnya pakai minuman bersoda. Sehari bisa sampai 20 butir.

Saya dapat obat itu gara-gara kalah festival musik. Pas kalah, dikasih sama teman. “Ini pake, biar nggak pusing,” dia bilang gitu. Karena saya dikasi alkohol nggak mau, dikasi heroin, cimeng, hasish, saya nggak mau. Tapi begitu kena obat itu, langsung enak. Dulu kirain itu obat biasa biar bisa tidur aja. Belum kecanduan waktu itu. Cuma saya ngerasa ringan gitu.

Yang bikin parah sih heroin. Saya pake heroin SMA kelas 1, mau naik ke kelas 2. Itu juga saya dapat gara-gara teman saya punya utang ke saya Rp 200 ribu. Dia bilang nggak punya uang. Jadi bayarnya pake heroin itu. Waktu mulai kenal heroin saya sudah mulai berantakan. Absen sekolah, olahraga nggak pernah sama sekali. Waktu SMP saya masih lah ngasi medali bulutangkis, dan basket. Kepala sekolah saya bilang sekolah saya sia-sia. Sakit, izin, alpha, hadir lagi. Sakit, izin alpha, hadir lagi.
Teman-teman di SMA juga ada yang pake. Itu juga karena tinggal sama-sama saya, jadi barengan berangkatnya sama saya. Kalau teman-teman yang di luar, saya nggak tahu. Tapi begitu saya tamat, saya keluar-masuk rehab, baru saya tahu ternyata teman-teman angkatan saya banyak yang make. Karena saya nggak pernah nongkrong di kantin.

Kalau pas dapat “barang”, saya pakaw di kelas. Kalau orang keluar main, saya diam di kelas. Saya kadang make di bawah bangku. Ada teman sebangku tahu kalau saya pake spite (jarum suntik). Memang saya pake heroin dengan jarum suntik. Memang jamannya tahun itu narkoba lagi banyak-banyaknya. Lagi murah-murahnya. Informasi juga kan nggak tahu.

Saya sudah sempat keluar-masuk banyak rehab. Orang tua saya sampai bosan. Tapi terakhir, malah saya sendiri yang inisiatif ke methadone Sanglah. Waktu itu orang tua malah ragu dengan methadone. “Apa itu, kan berarti sama-sama make narkoba,” mereka bilang gitu. Tapi saya coba buktiin. Ternyata bisa.

Waktu di methadone saya baru berani ikut tes HIV/AIDS. Padahal sebenarnya saya tahu tentang AIDS sudah lama. Sejak LP (lembaga pemasyarakatan) dicek sama Depkes, sekitar tahun 2002. Di Yakeba (Yayasan Kesehatan Bali) kan diadain tes, saya lari. Nggak berani karena saya ngerasa nggak kena. Di methadone lah saya mulai belajar membuka diri. Bisa menghargai masukan dari orang, dari teman. Akhirnya saya juga bisa mandiri. Saya cari konselor tanpa konseling karena saya sudah mempelajari. Akhirnya saya dekatin konselornya, saya bilang “saya mau tes”. Itu sekitar 2 tahun lalu. Saya inisiatif tes karena teman saya sudah banyak saya lihat sakit. Satu teman grup saya juga baru sekarang mengaku ke saya. Dia sendiri yang buka.

Sekarang saya jadi staf Yakeba (LSM yang bergerak di bidang narkoba dan HIV/AIDS). Kebetulan saya dapat tugas di lembaga pemasyarakatan (LP). Di LP Kerobokan 3 kali seminggu, Rutan Bangli 2 kali seminggu. Saya juga bertanya-tanya kenapa saya yang ditugasin.

Masalah pengetahuan kecanduan saya memang kurang. Cuma dari perilaku katanya dilihat terjadi perubahan. Kebetulan, yang membuat saya berhenti adalah methadone, CBT (cognitive behaviour therapy) dan NA (narcotics anonymus). Jadi tiga itu saya kombinasikan. Methadone sebagai fisik, NA sebagai pemulihan harian, dan CBT tinggal saya terapin saya. Karena saya pernah menjalankan CBT, lebih enak jadinya menyampaikannya. Saya juga ngerasain dulu, teman-teman yang dalam keadaan mabuk datang ke CBT, saya juga dulu kayak gitu. Jadi triknya saya sudah tahu. [Seperti diceritakan pada Komang Erviani / pernah dimuat di Media KULKUL Edisi 8, September 2005]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s