Fastfood, No!

Sebuah penelitian menunjukkan, 15,8 persen anak usia sekolah dasar (SD) di Kota Denpasar mengalami obesitas. Separuhnya merupakan pengkonsumsi setia fast food.

Setengah berlari, anak itu “menubruk” pintu masuk sebuah restoran cepat saji di Jalan Dewi Sartika, Denpasar, Bali. Wajahnya sumringah. “Dia memang paling suka makan di sini,”ujar sang ibu santai. Sudah satu tahun ini, Wayan Hendra Putra, anaknya, keranjingan fried chicken. “Soalnya enak,” tutur Hendra sambil asyik menikmati paha ayam dan kentang gorengnya.

Anak kelas IV D itu. Berusia sembilan tahun itu selalu merengek kepada ibunya untuk mengunjungi temoat favorit tersebut. Nyari tak ada pekan terlewat. Sang ibu pasti meluluskannya, tanpa pernah berpikir tentang risiko bagi kesehatan anaknya. Meski perawakan Hendra masih normal, jika hobi menyantap makanan cepat saji terus berlanjut, bukan tidak mungkin tubuhnya terus melar, terserang obesitas.

Seperti di kota-kota besar lainnya, fast food kini memang telah menjadi tren gaya hidup di Denpasar. Sebagian besar masyarakat justru merasa bangga bila mampu mengongkosi anaknya untuk sering-sering makan di restoran fast food. Kelihatan lebih bonafid, begitu kira-kira. Tren itu pun kini mulai membangun tren baru, yakni obesitas pada anak-anak.

Penelitian oleh Dosen Jurusan Akademi Gizi Politeknik Kesehatan Denpasar, Ida Ayu Eka Padmiari,SKM, M.Kes, menunjukkan bahwa sekitar 15,8 persen anak usia SD di Denpasar mengalami obesitas. Terdiri atas 9,7 persen laki-laki dan 3,9 persen perempuan. Angka itu diperoleh dari total 154 siswa SD di Kota Denpasar. Penelitian dilakukan selama 4 bulan pada 2002. Penelitian yang menggunakan standar Nutrition Community Health Survey (NCHS) dari WHO tersebut, dilakukan sebagai bahan tesisnya di Universitas Gadjah Mada. Latar belakangnya sederhana, karena obesitas pada anak disadari memiliki derajat kerawanan yang sangat tinggi untuk terjadinya penyakit degeneratif semacam penyakit jantung, dibetes melitus, dan lainnya. Sementara tren hidup masyarakat makin mengarah pada konsumsi fast food.

Benar saja, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 50 persen dari anak yang mengalami obesitas ternyata pengkonsumsi setia fast food. Sisanya, mencampur fast food dengan jenis makanan lainnya. Bagi ibu 3 anak kelahiran Denpasar 17 April 1964 ini, perubahan gaya hidup pemicu obesitas tak hanya tercermin dari tren fast food, tetapi juga perubahan cara pergaulan. Sebagian besar anak-anak sekarang memiliki cara bermain yang berbeda. Sebagian besar lebih senang di rumah untuk bermain play station atau sekadar menonton TV. “Anak-anak sekarang akivitas fisiknya sangat kurang. Kalau kita mengonsumsi 100, harusnya kan keluar 100. Tapi biasanya cuma keluar 50 persen. Jadi ada kalori yang tak terpakai dan menjadi timbunan lemak,”jelas ketua yayasan bidang penelitian gizi dan pengembangan mutu, Mitra Gizi Bali ini.

Selain gaya hidup, faktor usia dan jenis kelamin juga dipastikan memberi pengaruh. Dari total anak yang mengalami obesitas, 9,7 persen diantaranya laki-laki, dan 3,9 persennya adalah perempuan. Hal ini diperkirakan terjadi karena sistem hormonal. Dari sisi umur, anak usia 6-8 tahun diketahui memiliki potensi paling rendah, hanya 5,8 persen. Sementara usia paling rentan adalah para usia pra remaja, yakni 10-12 tahun. Sebanyak 76 persen dari siswa obesitas yang diteliti, diketahui berada pada kisaran umur pra remaja itu. Kondisi itu lagi-lagi diperkirakan terkait dengan sistem hormonal. Usia 10-12 tahun merupakan usia masa puber bagi mereka, selain karena aktivitas fisik mereka berkurang pada umur-umur tersebut. “Kalau udah remaja, mereka kan sudah nggak banyak beraktifikasi fisik. Biasanya karena malu,”tandasnya.

Padmiari mengakui, tingkat obesitas pada anak di Bali tergolong cukup tinggi. Hal itu perlu disikapi dengan memasyarakatkan pedoman umum gizi seimbang. Yakni dengan mengonsumsi karbohidrat sebanyak setengah kebutuhan kalori tubuh. Sisanya bisa didapat dari protein maupun sayur-sayuran.

Jadi, mulailah katakana “no” pada fastfood. Jangan biarkan anak seperti Wayan Hendra Putra terbiasa berlari “menubruk” pintu mask restoran cepat saji. [Komang Erviani / dimuat di Majalah Gatra No 45 Tahun XI, 24 September 2005]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s