Jangan Biarkan Narkoba Merenggut Kehidupan

Penyalahgunaan narkoba di Indonesia terbukti mengakibatkan kerugian di segala bidang. Selama 2004 saja, besaran biaya ekonomi dan sosial akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 23,6 triliun. Dari jumlah itu, 78 persennya merupakan kontribusi biaya ekonomi. Biaya terbesar timbul dari konsumsi narkoba, sebanyak Rp 11,3 triliun.

Begitulah sepenggal isi hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) tentang biaya ekonomi dan sosial akibat penyalahgunaan narkoba pada 10 kota besar di Indonesia tahun 2004 yang disosialisasikan kepada para pengurus dan staf Badan Narkotika Provinsi (BNP) Bali, awal Oktober 2005 lalu. Selain Denpasar, penelitian juga menyasar Medan, Batam, Manado, Jakarta, Semarang, Makassar, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.

Dalam penelitian itu juga disebutkan, biaya sosial dari penyalahgunaan narkoba pada tahun 2004 telah mencapai sekitar Rp 5 triliun. Kontribusi terbesar terhadap biaya tersebut adalah untuk kriminalitas, terutama di tingkat keluarga. Hal itu diketahui dari survei terhadap siswa SMA, penyalahguna narkoba di masyarakat, di panti rehabilitasi, petugas kepolisian, mantan penyalahguna, serta keluarga penyalahguna.

Masih dari survei tersebut, juga diketahui bahwa ganja merupakan jenis narkoba yang banyak dipakai. Pada kelompok coba-pakai, penggunaan ganja mencapai 71 persen. Sementara pada kelompok teratur-pakai dan pecandu msing-masing sebanyak 71 persen dan 75 persen. Jenis narkoba lain yang juga banyak dipakai yakni heroin, shabu, ekstasi, dan obat penenang.

Di tahun yang sama, besaran penyalahguna narkoba teratur-pakai dan pecandu di Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar 3,2 juta orang, atau setara dengan 1,5 persen jumlah penduduk. Komposisinya, 79 persen laki-laki dan 21 persen perempuan. Dari jumlah itu, 69 persennya adalah kelompok teratur pakai dan 31 persen pecandu. Ironisnya, lebih dari separuh dari kelompok pecandu (56 persen), atau sekitar 572 ribu orang merupakan penyalahguna narkoba suntik. Diantara para penyalahguna narkoba suntik itu, 400 ribu orang diperkirakan telah terinfeki Hepatitis B, 458 ribu orang terinfeksi Hepatitis C, dan 299 ribu orang telah terinfeksi HIV.

Itu baru satu hasil penelitian BNN. Dalam kesempatan berkunjung ke Bali, BNN melalui Staf Puslitbang dan Info BNN, Kompol Deden Pramana, tak hanya membawa hasil penelitian. Empat buah hasil penelitian disosialisasikan sekaligus. Selain tentang biaya ekonomi dan sosial akibat penyalahgunan narkoba, BNN juga menyosialisasikan hasil penelitian tentang masalah narapidana narkoba di lembaga pemasyarakatan (LP) dan rumah tahanan (rutan) tahun 2003, hasil survei nasional penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tahun 2003, dan hasil survei nasional penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada pekerja formal dan informal di 15 provinsi tahun 2004.

Dalam penelitian masalah narapidana narkoba di LP dan Rutan, BNN yang bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) menyasar 9 LP dan 1 rutan di 9 provinsi. LP Kerobokan termasuk salah satu lokasi dengan mengambil 88 responden napi narkoba di LP terbesar di Bali itu. Dari para napi narkoba, ternyata 82,6 persennya mengaku pertama kali menyalahgunakan narkoba karena diberi teman. Hanya 12,4 persen yang mengaku mengawali dengan membeli sendiri. Sebagian besar diantaranya (61,3 persen), mengawali dengan menyalahgunakan ganja. Disusul kemudian jenis putaw sebanyak 12,5 persen. Hampir dua pertiga penyalahguna narkoba memulai kebiasaan buruknya itu di kisaran umum 15-24 tahun. Hanya 10,7 persen yang mengawali di umur kurang dari 15 tahun. Melihat kondisi itu, maka peneliti merekomendasikan pentingnya peningkatan kampanye tindakan preventif kepada anak-anak usia sekolah. Kata kuncinya, jangan pernah mencoba dan jangan mau dikasi teman.

Survei tentang penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada tahun 2003, mengungkap sebaran penyalahgunaan narkoba per ibukota provinsi secara nasional. Hasilnya, ada tiga kota yang memiliki besaran persentase penyalaguna narkoba paling tinggi. Yakni Jakarta (23 persen), Medan (15 persen) dan Bandung (14 persen). Beberapa kota lain yang mengikuti diantaranya Medan (6,4 persen), Surabaya (6,3 persen), Maluku Utara (5,9 persen), Padang (5,5 persen), Kendari (5 persen), Banjarmasin (4,3 persen), Palu (8,4 persen), Yogyakarta (4,1 persen), dan Pontianak (4,1 persen).

Heran karena Denpasar tak terlihat dalam data itu, Kepala Satuan Pembinaan dan Penyuluhan (Satbinluh) Dit. Narkoba Polda Bali, AKP Ketut Masmini langsung bertanya,”Saya jadi ragu. Bali kok tidak kelihatan. Lalu kenapa program-program WHO justru dilaksanakan di Bali dan Jakarta?“. Deden mengakui, pihaknya tidak tahu persis kenapa Bali tak tampak di data tersebut. Diperkirakan, itu karena metode yang digunakan. ”Tapi studi ini setiap 5 tahun akan kita ulang. Mungkin tahun 2008 nanti Bali akan kelihatan,”jawabnya ringan.

Survei terhadap 13.710 responden dari 26 ibukota provinsi itu, juga memperlihatkan kaitan yang lebih signifikan antara faktor sosialisasi dalam lingkungan teman sepergaulan yang menyalahgunakan narkoba dengan penyalahgunaan narkoba dibandingkan faktor-faktor kondisi dan sosialisasi keluarga. Pada kelompok responden yang semua teman bergaulnya mempunyai kebiasaan merokok, 24,9 persen di antara responden pernah menyalahgunakan narkoba. Sementara pada kelompok responden yang seluruh teman bergaulnya mempunyai kebiasaan minum-minuman keras, persentase penyalahguna narkoba sebanyak 38,1 persen.

Kenyataan itu diperkuat dengan hasil survei tentang penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada pekerja formal dan informal di 15 provinsi tahun 2004. Kebiasaan merokok dan minum minuman keras disimpulkan sebagai perilaku awal yang biasanya menjadi pemicu orang mencoba narkoba. Sebanyak 94 dari 100 responden penyalahguna narkoba adalah perokok, sementara 91 dari 100 orang adalah peminum minuman keras. Sayang, penelitian terakhir ini tak mengikutsertakan Bali sebagai sasaran. Survei hanya dilakukan di Medan, Jambi, Palembang, Bengkulu, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Palangkaraya, Makassar, Kendari, Manado, dan Mataram. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 10, November 2005]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s