Generasi Kencur Bareng Macan Panggung

Bali Jazz Festival meriah dengan kehadiran musisi asing. Banyak musisi bau kencur yang unjuk kebolehan, tak mau kalah dengan seniornya. Direncanakan jadi ajang tahunan.

Panggung sempit di Hard Rock Café, Kuta, Bali, jadi fokus perhatian ketika jarum jam menunjuk pukul 8 malam, Minggu pekan lalu. Semua kursi di lantai I kafe dengan interior dominasi kayu itu, ludes. Lengkingan suara saxophone yang ditiupkan duo saxophonist cilik, Gadis V ((13 tahun) dan Bass G (11 tahun), membuat riuh suasana. Ada suara tepuk tangan, siulan panjang, hingga teriakan kekaguman. Lagu “Song for Mama” hingga “Kopi Dangdut” dilantunkan secara apik dengan iringan suara keyboard, drum, dan gitar dari The G & B All Star, mengundang decak kagum.

Satu jam lamanya, duo kakak beradik yang tampil sportif itu sukses membius penonton Bali Jazz Festival di hari terakhir. Keduanya tak canggung meski harus tampil di antara 37 grup musisi jazz lokal, nasional, dan dunia, yang ikut meramaikan festival tiga hari, 18-20 November 2005. Memang, tak sedikit musisi jazz yang tampil dalam ajang acara yang oleh panitia pelaksana, Matapro dan Idekami Communications, dicita-citakan jadi pesta berkelas internasional,. Panggung di Hard Rock Café hanyalah salah satu panggung yang disediakan bagi para musisi tersebut. Sebuah panggung utama berukuran besar juga dibangun di Sand Island Hard Rock Hotel.

Hari terakhir pesta jazz yang disponsori Produsen Rokok Kretek Dji Sam Soe itu masih menyisakan kemeriahan bagi peminat jazz tanah air maupun asing. Sebanyak 11 grup musisi jazz tampil di kedua panggung. Di panggung Hard Rock Café, Gadis V harus tampil bergantian dengan Jazzyphonic, Rio Sidik bersama Saharadja, dan Bali Lounge. Iringan Saharadja, membuat penampilan Rio Sidik makin mantap. Bagaimana tidak, band jazz yang dibentuk di Bali pada 2002 itu, oleh 7 awaknya yang lintas negara (violist kelahiran Australia) mampu menampilkan musik yang asyik dari perpaduan beragam isntrumental seperti terompet, biola, jembe, gitar flamenco, dan lainnya. Perpaduannya mampu menghadirkan musik dengan nuansa tradisional India, Eropa, Irlandia, Amerika Latin, dan tentu saja Indonesia.

Di panggung utama, Balawan dan Batuan Ethnic Fusion tampil sebagai pembuka. Koko Harsoe Band kemudian menyusul, diikuti Tommorow People Ensemble (TPE), Kelompok anak muda pecinta jazz yang mampu memberi nuansa jazz yang berbeda dari biasa. Urs Ramsmeyer asal Swiss tak mau kalah, meski penampilannya tak mendapat sambutan sehangat Gadis V dan Bass G yang pada waktu hampir bersamaan juga tampil di panggung Hard Rock Café. Jurasik Big Band mendapat sambutan lumayan dari penonton. Saat tengah malam hampir tiba, saxophonist asal Amerika, David Sills, tampil dengan straight a head jazz berkolaborasi dengan grup asal Yogyakarta, Jaco Quartet. Indra Lesmana bersama Pra Budhi Darma dan Gilang Ramadan tampil di urutan terakhir, sekaligus menutup ajang pentas jazz tersebut.

Dari banyaknya nama besar yang tampil jhari itu, tentu saja penampilan Gadis V dan Bass G yang sukses mengundang decak kagum penonton, patut diacungi jempol. Apalagi bila mengingat usia mereka yang masih sangat muda. Namun,Gadis V dan Bass G bukan satu-satunya musisi bau kencur yang sukses membius penonton. Di hari pertama, pianis cilik F. Zefanya Hartani Putra tak kalah sukses saat tampil dengan iringan gitar dan drum dari musisi dewasa, Rudi Aru dan Ari Aru. Dari atas panggung utama, bocah kelahiran Bandung, 16 April 1994, itu memainkan lima komposisi instrumental seperti Freedom Jazz Dance, Periscope, All The Think You Are, Bud Powell dan Blue Bossa. Tepukan tangan yang diterimanya, tentu saja, tak kalah heboh dengan yang diterima Gadis V dan Bass G. Bagaimana tidak, kepolosan penampilan Zefa ternyata hanya “tipuan” ketika ia mulai menekan tuts pianonya. Ia sama sekali tak canggung meski harus tampil dari panggung yang sama dengan musisi-musisi seniornya. Untuk urusan musik jazz, selain berguru kepada ayahnya, Zefa yang awalnya mengaku harus dipaksa belajar piano, juga menyebut nama Andy Wiryantono.

Dari panggung yang sama, di hari pertama itu, Imam Prass Quartet tampil mengawali dengan alunan pianonya. Diiringi akustik bass Rudi Aru, drum Ari Aru, dan saxophone Boyke, tak banyak yang menyadari kalau mereka adalah pendatang baru yang masih segar dalam kancah musik jazz di Indonesia. Nuansa yang berbeda diberikan Soul mate, kelompok jazz lokal yang tampil dengan petikan Harpa dari Maya Hasan dan gitar dari Riwin. Unsur jazznya mudah sekali terasa, terutama dalam format yang lebih modern dan dihiasi dengan corak musik dunia dan generasi baru. Gaya-gaya seperti ini sering dilakukan dalam kampanye tentang isu-isu kemanusiaan, perdamaian, dan masalah lingkungan hidup. Kelompok yang terdiri dari Eko Soemarsono (akustik bass), Boogie Prasetyo (drum), Gede Yudhana (gitar), Ketut Rico (keyboard), Amy Rosady (vokal), dan Barokh Khan (sitar dan tabla) memang tergolong band bau kencur, baru terbentuk 2005. Meski demikian, mereka sukses menampilkan komposisi mereka sendiri berjudul Dewiku, Kesari, Fashion, dan Meith.

Para penonton juga diajak memasuki wilayah yang lebih abstrak dalam musik jazz melalui penampilan Joe Rosenberg Quartet. Joe Rosenberg yang bermain sopran saxophone dan bass klarinet, diiringi piano Masako Hamamura, drum Sri Aksana Sjuman, dan bass Peter Scherr menghasilkan nuansa musik yang cenderung gelap, berkabut, namun dengan tingkat emosional yang cukup peka. Terutama saat mereka menampilkan sebuah komposisi yang dipersembahkan untuk musisi jazz Indonesia yang beberapa waktu lalu meninggal dunia karena menjadi salah satu korban bom di AmmanYordania, Perry Pattiselano.

Dua penampil terakhir di panggung utama pada hari pertama itu adalah dua tokoh dan kelompok terkemuka dalam blantika musik jazz Indonesia, Bubi Chen dan Krakatau. Permainan Bubi Chen yang oleh majalah jazz Downbeat sebagai “Art Tatum-nya Asia”, tak dapat disangsikan lagi. Di usianya yang sudah 66 tahun, pianis yang tergabung dalam Indonesian All Star pada tahun 1967 ini sepertinya tetap ingin menunjukkan diri sebagai tipe pianis jazz yang perfeksionis. Bubi yang tampil lentur dan ekspresi matang, diiringi rekan-rekan lamanya seperti Oele Pattiselano (gitar), Jacky Pattiselano (drum), Jeffrey Tahalele (akustik bass), Benny Likumahua (trombone) dan bintang tamu vokalis Bertha. Momen mengesankan kembali ditorehkan dalam ajang ini, ketika Bertha tampil dengan putri kecilnya dengan melantunkan lagu Over The Rainbow.

Krakatau Band yang sejak dua tahun terakhir disibukkan oleh tour mereka di kawasan Amerika Utara dan Eropa, tampil menarik ketika malam makin larut. Mereka mencoba mempertemukan system diatonik barat dan pentatonik dari sebagian kawasan tradisi kesenian Indonesia yang khas dan diperkuat dengan improvisasi musik jazz dalam formasi lazimnya sebuah band. Visinya memang terlihat jauh berbeda dengan apa yang kita kenal dengan awal-awal pembentukannya 24 tahun silam. Formasinya terdiri atas Dwiki Darmawan (piano dan keyboard), Pra Budi Darma (bass), Adhe Rudhiana (kendang dan perkusi), Yoyon Dharsono (instrumen tradisional), Zaenal Arifin (gamelan dan perkusi), Gerry Herb (drum), dan Nya Ina Raseuki atau akrab disapa Ubiet (vokal). Mereka tampil dalam beberapa komposisi yang menantang dari beberapa album terakhirnya, Mystical Mist dan Engrang Shuffle. Sebanyak 6 grup lainnya tampil di panggung Hard Rock Cafe di hari pertama Bali Jazz Festival, diantaranya kelompok band anak muda asal Jepang Peace of Cake, sejumlah mahasiswa ISI Yogyakarta yang tergabung dalam Jaco Quartet yang tampil bareng Tuti Ardi, serta Yuri Mahatma Band yang tampil dengan eksplorasi cukup berani. Riza Arshad dengan keyboard, Tohpati dengan gitar, Aditya dengan bass dan Endang Ramdan dengan perkusinya, terlihat kompak dalam Simak Dialog yang tampil setelahnya. Juga ada Park Drive dan Nera yang menutup sesi hari pertama di Hard Rock Café.

Hari kedua Bali Jazz Festival tak kalah meriah. Ada penampilan Ensemble d Etudiant, Eye 2 Eye Jass Mix, Kul Kul, Rudesh Mahanthappa MSG, Sova, dan Cherokee di panggung Hard Rock Cafe. Sementara di panggung utama, tampil Anane, Idang Rasyidi dkk, Xinau feat Dian Pratiwi, Eero Koivistoinen Trio asal Finlandia, Jan De Hasdari Belgia, Ron Davis Quartet bersama Daniel Nafdi, dan Yokohama Artist Asociation Orchestra dari Jepang.

Meski baru pertama kali digelar, ajang Bali Jazz Festival sedikitnya telah mampu memberi ruang yang sangat luas bagi banyak sekali musisi jazz pendatang baru yang layak berkiprah di level internasional. Tentu saja, banyak pihak mendukung rencana Koordinator ajang ini, Arief ”Ayip” Budiman untuk menjadikannya ajang tahunan. Tak hanya untuk lebih mengembangkan dan mengasah bakat banyak potensi musisi jazz tanah air dan membawa musik jazz untuk lebih memasyarakat, tetapi juga untuk memberi nilai lebih terhadap pariwisata Bali. Ajang musik internasional semacam Bali Jazz Festival, setidaknya, telah membantu memberi support kepariwisataan Bali paska aksi para teroris 1 Oktober silam. [Komang Erviani]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s