Anak-anak Odha,Jangan Abaikan Mereka

Yuda (bukan nama sebenarnya), 3,5 tahun, bersikap manja di pangkuan Sari ibunya. Peluh yang menetes dari tubuh kecilnya gara-gara udara panas yang berhembus hari itu, sepertinya tak tak terlalu dipedulikan. Yuda seperti larut dalam kehangatan cinta yang diberikan Sari.

Sejak beberapa tahun belakangan, Yuda memang makin lengket dengan sang ibu. Itu terutama terjadi sepeninggal ayahnya yang meninggal dunia karena AIDS, syndrome munculnya berbagai gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus HIV. HIV/AIDS telah membuat Yuda tak lagi memiliki keluarga utuh. Tak cuma itu, belakangan Sari yang kini berusia 28 tahun juga diketahui positif HIV. Diperkirakan, Sari tertular virus itu dari suaminya. Semasa hidup, suami Sari memang gemar berganti pasangan seks.

Gara-gara HIV/AIDS, Yuda kini jadi anak yatim. Meski demikian, Yuda masih cukup beruntung. Setidaknya ia masih punya ibu yang sehat, berbeda dengan beberapa anak lain di kawasan tempat tinggalnya, Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng. Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI), LSM yang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, mencatat ada 18 anak di Gerokgak yang kini menjadi yatim dan yatim piatu karena orang tuanya terinfeksi HIV/AIDS. Mereka berada di kisaran usia 6 bulan sampai 15 tahun. Sebagian besar diantaranya kini diasuh oleh paman atau bibi mereka.

HIV/AIDS ternyata memang bukan hanya permasalahan orang dewasa. Hal itu mulai disadari para petugas lapangan YCUI yang menjangkau sejumlah wilayah di Bali, setelah melihat ada banyak anak-anak yang ternyata menjadi korban. Banyak anak-anak yang telantar akibat kehilangan orang tua mereka karena HIV/AIDS. Karena itu pula, dukungan care support and treatment yang awalnya hanya diberikan Suryakanta YCUI kepada orang dengan HIV/AIDS (Odha), sejak 2003 lalu juga menjangkau anak-anak. “Pertimbangannya, dampak dari HIV/AIDS tak hanya kepada Odha tetapi juga Ohidha (orang yang hidup dengan Odha), termasuk anak-anak mereka,”jelas Kadek Carna Wiratha, Koordinator Suryakanta YCUI.

Beruntung, program dukungan bagi anak-anak Odha telah disupport beberapa pihak. Mulai dari Penggerak PKK Kabupaten Buleleng, para ekspatriat, hingga support dari Bali Community Cares (BCC), komunitas yang terdiri dari personal maupun perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap HIV/AIDS dan narkoba. Pemberian dukungan salah satunya diarahkan pada pemberian nutrisi dan gizi yang memadai. Ada juga bantuan untuk peningkatan pendidikan mereka. BCC memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak tersebut, untuk membantu mereka meraih masa depan yang lebih baik.

Putu Desi Wulandari, adalah salah satu contoh potret nyata seorang remaja putri yang kini menjadi yatim karena sang ayah meninggal akibat AIDS, namun Desi optimis dengan masa depannya. Berkat bantuan beasiswa yang diperolehnya, Desi yakin cita-cita menjadi guru bakal diraihnya.

Ancaman HIV/AIDS bukan main-main. Data UNAIDS menunjukkan, sebanyak 40,3 juta penduduk dunia sudah terinfeksi HIV. 17.5 juta diantaranya adalah perempuan Di Bali sendiri, berdasar data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, diperkirakan ada 3000 orang terinfeksi HIV/AIDS. 1900 orang terinfeksi dari hubungan seksual, sementara 1100 orang terinfeksi dari penggunaan jarum suntik bergantian di kalangan pengguna narkoba suntik.

Tak berhenti di situ. Setiap 15 detik, anak-anak telah kehilangan salah satu orang tuanya karena AIDS. Saat ini telah ada lebih dari 15 juta anak yatim piatu karena AIDS. Sebanyak 25 juta anak-anak dunia dipastikan akan menjadi yatim piatu karena HIV/AIDS di tahun 2010. Ada diantara mereka adalah anak-anak kita. Tidak ada wilayah dan manusia yang kebal dari virus yang sampai sekarang belum ditemukan obat untuk mengatasinya secara total. Tepat di Hari Yatim Piatu karena AIDS se-Dunia (World AIDS Orphans Day), 7 Mei, mari kita bangun komitmen bahwa anak-anak Odha itu juga punya hak untuk mendapat kehidupan mereka yang layak, dan mari melindungi anak-anak dari HIV/AIDS. Agar tak ada generasi yang hilang. [Komang Erviani / dimuat di Koran Tokoh Edisi 7 Mei 2006]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s