Memandang Karang dari Jendela Odyssey

Petualangan alam bawah laut seputar Pulau Bali dengan kapal selam Odyssey. Melesak hingga kedalaman 35 meter dari permukaan laut. Melihat penyelam bercengkrama dengan segala jenis biota laut.

Jalan tanah yang sempit dan berbatu, memaksa bus yang kami tumpangi mengurangi kecepatan. Rumah-rumah penduduk di sela pepohonan rindang, terlihat di sisi kanan dan kiri jalan, mengingatkan kami akan suasana khas pedesaan. “Wah, kita mau ke mana nih? Kok jalannya begini,“ celetuk seorang teman, seolah tak percaya kalau kendaraan kami tengah melaju menuju sebuah wahana wisata.

Tak lama, bus berhenti. Bentangan laut biru langsung menyambut kami. Sebuah tebing menghijau, mematahkan pandangan kami ke sisi kanan. Sementara di sisi kiri pandangan kami lepas menuju jejeran kapal-kapal besar pengangkut minyak milik Pertamina. Jalanan tanah sepanjang 1,5 km yang barus aja kami tempuh, jadi terlupakan. Yap, kami tiba di di Labuhan Amuk.

Labuhan Amuk terletak di Desa Antiga Karangasem, sekitar 75 menit dari Denpasar. Di tempat inilah, Pemerintah Kabupaten Karangasem rencananya akan membangun dermaga kapal pesiar internasional. Dermaga itu diharapkan bisa menjadi pintu masuk potensial untuk kunjungan turis asing ke kabupaten sebelah timur Pulau Bali itu. Tapi tentu saja kedatangan kami ke sana bukan untuk meninjau kesiapan pembangunan yang masih dalam rencana di atas kertas itu. Kami akan menikmati panorama bawah laut Labuhan Amuk.

Tidak bisa menyelam? atau bahkan tidak bisa berenang? bukan masalah! Untuk bisa melihat panorama bawah laut Labuhan Amuk, kita bahkan tak harus berbasah-basah. Jadi, tak perlu memakai wet suit, mengangkut oksigen seberat lebih dari 5 kg, dan segala tetek bengek alat menyelam. Kok bisa?

Adalah kapal selam Odyssey Submarine yang menawarkan wisata selam ini. Kecanggihan kapal buatan Victoria Machinery Depot Co. Ltd. Canada yang berbobot 72,6 ton itu, memberi kesempatan bagi wisatawan untuk melihat keindahan bawah laut tanpa keahlian khusus. Bahkan anak-anak pun dimungkinkan untuk ikut. Du dinia, kapal sejenis hanya beroperasi di dua tempat, yakni di Bali dan Hawaii , AS.

Untuk keamanan, pengelola kapal tak mau main-main. Saat check in, kami langsung disodori jaket keselamatan. Prosedur penyelematan tak selesai di situ. Sebuah timbangan besar sudah menunggu untuk kami naiki. Untuk alasan keamanan, berat badan semua calon penumpang harus ditimbang, termasuk dengan semua barang yang akan dibawa. Kapal berdimensi panjang 17 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 5,5 meter itu, memiliki kemampuan angkut 3.500 kg. Kapasitas maksimum yang dimungkinkan, sebanyak 36 orang penumpang.

Usai timbang badan, melalui sebuah layar televisi, kami dijelaskan tentang detil kapal tersebut. Mulai dari tata cara masuk ke kapal selam, hingga aturan-aturan yang wajib dipatuhi penumpang. Untuk menhindari hal yang tidak diinginkan, semua barang berharga diharapkan agar dibawa. Untuk barang bawaan yang tidak penting, pengelola menyediakan lemari penitipan. Kami juga diingatkan untuk tidak makan atau minum di dalam kapal, untuk menjaga kebersihan kapal. Dilarang merokok, jelas. Satu lagi yang kelihatan sepele tapi penting, kapal selam tidak menyediakan toilet. ”Tolong yang ingin ke toilet, ke toilet dulu, karena di dalam kapal tidak ada toilet,” begitu Zulkarnaen Lubis, Koordinator Operasional Odyssey Submarine.

Setelah seluruh persyaratan di darat terpenuhi, kami pun berangkat. Sebuah perahu motor (boat) yang sedari tadi sudah bersandar di pantai, ternyata digunakan untuk mengangkut kami menuju kapal selam. Jarak yang kami tempuh dengan perahu motor tidak panjang, hanya sekitar 500 meter. Dalam lima menit, perahu motor kami sudah merapat di kapal selam Odyssey. Sekilas, kapal itu terlihat seperti rakit besi di tengah laut. Maklum, kapal ini memang bukan kapal biasa. Bila sedang tidak digunakan, Odyssey menempel pada kapal induknya. Dari kejauhan, kami melihat kapal besar. ”Itu kapal induknya,” ujar pemandu kami.

”Selamat sore semua, selamat datang,” begitu seorang laki-laki gagah dengan balutan pakaian putih menyapa kami. Namanya Surata, pilot kapal. Ia membantu kami melompat dari perahu motor. Gelombang Labuhan Amuk yang tenang, membuat guncangan kapal tak seberapa. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan pengelola memindahkan operasional kapal ini ke Labuhan Amuk. Sebelum beroperasi di Labuhan Amuk dua tahun lalu, Odyssey Submarine sempat beroperasi di perairan Nusa Dua. Sayang, gelombang di perairan Nusa Dua terlalu besar sehingga membahayakan.

Surata lantas meminta kami berdiri berjejer di atas kapal. Seorang petugas memotret kami dari perahu motor yang kami tumpangi tadi. Jadi, buat yang tidak bawa kamera, jangan khawatir. Pengelola menyediakan foto untuk dibawa pulang. Tapi tentu saja, tidak gratis. Harga per lembar foto tentu tidak murah, mencapai sekitar Rp 50.000. Ini tentu sesuai dengan tarif tour kapal selam Odyssey yang memang tidak murah, mencapai 69 dolar AS untuk wisatawan asing, atau Rp 450 ribu untuk wisatawan domestik.

Satu per satu kami kemudian memasuki kapal selam. Untuk masuk, kami harus melewati tangga kecil menurun. Sesuai briefing, berjalan mundur agar tangga yang kami injak bisa jadi pegangan.

Di dalam kapal, pilot kapal lainnya, sudah bersiap di kemudinya, bagian depan kapal. Dalam perjalanan, kapal Odyssey memang dihandle 2 pilot. Sebanyak 18 jendela kaca di lambung kanan dan kiri kapal, seolah bersiap menyajikan keindahan alam bawah laut Labuhan Amuk hari itu. Sambil menunggu pemberangkatan, sejumlah ikan kecil yang berenang di air berwarna biru kehijauan lumayan menghibur kami.

Tak lama, tiba-tiba pemandangan yang kami lihat berganti. Tak terasa, kapal selam itu ternyata sudah bergerak. ”Mesin kapal ini memang tidak bersuara, karena memakai baterai sebagai sumber tenaga,” jelas Surata menjawab rasa penasaran. Ada 250 baterai yang digunakan kapal selam tersebut. Baterai-baterai itu harus di-charge setelah 5 kali penyelaman. Dengan baterai, ikan-ikan diharapkan tidak merasa terganggu.

Pelan-pelan, kapal mengantar kami ke dalam laut. Saat monitor besar di dalam kapal menunjukkan angka 20 (artinya 20 meter), ikan-ikan mulai berseliweran di hadapan kami. Ada ikan coreflower sergent major yang terlihat indah dengan balutan warna putih dan hitamnya, black sergeant yang memukau dengan hitam pekatnya, hingga crown fish dan nemo fish yang menawan. Kami sempat kaget ketika melihat dua penyelam di antara ikan-ikan itu. Ternyata, ikan-ikan itu mengejar kedua penyelam karena mereka membawa pakan. Keduanya memberi pakan instan kepada ikan-ikan itu. Sayang ya……

Di kedalam akhir, 35 meter, kami justru tidak melihat banyak ikan. Menurut Surata, ikan-ikan memang lebih senang berada di kedalaman 20-25 meter. Diperkirakan, hal itu terkait dengan suhu yang bisa disesuaikan ikan-ikan itu.

Dalam penjelahan selama 45 menit itu, kami juga bisa melihat kerang, karang, dan biota laut lainnya. Tak terkecuali ikan tongkol yang biasa kita konsumsi. “Mmm, enak tuh,” begitu seorang teman. Sayangnya, kondisi terumbu karang yang kami lihat ternyata dalam keadaan rusak. Kata Surata, kerusakan itu sudah terjadi sejak lama akibat perburuan ikan hias menggunakan bahan peledak. “Untung masyarakat setempat bisa menyelamatkan lingkungannya dari ancaman pemburu ikan yang merusak,” terangnya. Salah seorang anggota masyarakat setempat, Paklik, juga mengakui kerusakan itu akibat kebiasaan lama warga setempat mencari karang untuk dijadikan kapur. “Tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak boleh,” tambahnya.

Perjalanan kami berakhir menjelang matahari tenggelam di Labuhan Amuk. Kami menyadari, kekayaan laut kita memang luar biasa. Tapi itu tidak akan ada artinya bila tidak dijaga. [Komang Erviani, dimuat di Majalah GATRA No. 28 Tahun XII, beredar 27 Mei 2006]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Memandang Karang dari Jendela Odyssey

  1. wagirun says:

    Saya informasikan kepada saudara2 kita di seluruh Indonesia,siapa yg membutuhkan cacing LUMBRICUS RUBELLUS dan pupuk organix kascing silahkan contak persun WAGIRUN 012 6414028 Hp 021 70018981, semua barang redy stok.thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s