Ketika Pecandu Jera Oleh Penjara-2-

Inneke Jesica:Enaknya Cuma Sesaat

Awalnya, saya cuma ikut-ikutan kegiatan di klinik lapas. Sejak tertangkap membawa 4 butir ineks, April 2004, dan divonis penjara 4 tahun 6 bulan, saya sumpek. Jadi kalau ada kegiatan klinik, seperti pelatihan narkoba dan HIV/AIDS, saya ikut.
Di sana kita pelajari macam-macam drugs, terbuat dari apa, juga penyakit yang diakibatkan. Memang sih kita sudah tahu bahaya narkoba sejak awal, sejak kita masih di luar. Tapi kan di sini lebih jelas lagi. Terus kita juga diingatkan akibat kenal drugs, contohnya ya, kita di sini (Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan). Jauh dari orang tua, jauh dari orang-orang yang kita sayangi, jauh dari teman. Dari kegiatan-kegiatan itu, saya kemudian jadi peer educator (penyuluh sebaya) pada pertengahan 2005.

Sejak jadi peer educator, kalau ada anak baru, saya bikin meeting. Saya jelaskan ke mereka tentang bahaya narkoba dan HIV/AIDS. Jadi apa yang saya dapat itu, saya ajarin lagi. Tapi masing-masing orang, lain caranya. Kadang bisa bikin pertemuan seminggu sekali, kadang juga sama teman ngobrol biasa di kamar. Biasanya kan ada anak yang nggak tahu efek-efek obat itu.

Memang kalau kita ngasih tahu teman, eh, kamu itu berhenti dong. Kadang yang punya anak saya bilangin, inget anakmu. Kamu nggak kapok-kapok ya. Aku bilang, di sini kita nggak kerja. Beda kalau dulu. Di sini ngarepin orang dari luar. Di luar pun lagi susah.

Pernah ada yang ngomong, “Ah, lo munafik. Dulu juga kan elo make. Lagian duit duit sendiri, bukan duit elo.” Karena jengkel saya lalu bilang, “Iya sih, duit-duit lo. Sakit-sakit lo sendiri aja. Aku cuma ngingetin. Jadi terserah kamu. Lagian yang mati lo sendiri,”. Saya bilang, kalau kalian mau make, silahkan. Tapi tolong jangan mengganggu teman yang lain. Kadang ada teman yang udah nggak make, karena ngelihat barang, muncul sugest.

Terus terang, nggak munafik, kadang kalau saya lihat barang, bawannya juga tangan langsung dingin, sakit perut. Udah dingin duluan, padahal belum make. Tapi dalam hati saya bilang, “ah nggak nggak!”.

Ada teman sudah kayak adik sendiri, bilang mau make. Tapi saya bilang, ya terserah kamu. Itu hak kamu. Kamu juga bukan siapa-siapa saya. Tapi kalau kamu mau baik, jangan. Katanya kamu mau berhenti. Kasihan uang kamu. Lebih baik kamu pake makan.

Beda kalau di luar, kita kan bisa cari uang sendiri. Apalagi kalau anak-anak yang kerja di kafe, di karaoke. Mereka itu dapetin barang tanpa ngeluarin uang. Dikasih orang. Tapi kalau di sini, pikir-pikir dulu.

Di dalam lingkungannya susah. Latar belakang orang beda-beda. Jadi kalau stres, ada masalah sedikit, berantem. Saya pernah down, nggak mau lagi bilangin bahaya narkoba ke teman. Tapi setelah itu, saya lanjut lagi. Pernah ada teman sudah berhenti make, saya nggak pernah ngingetin lagi. Tiba-tiba dia datang lagi, mengeluh sakit gara-gara make lagi. “Aku kan udah bilang, itu enaknya cuma sesaat,” saya gituin aja.

Syukur nggak ada yang merespon terlalu buruk. Kadang kalau sudah kesal, saya kasih aja mereka makalah-makalah tentang narkoba dan HIV/AIDS yang saya dapat di pelatihan. Aku kasih aja dia baca dengan daya nalarnya. Karena masing-masing orang kan daya nalarnya beda. Daripada capek ngomong.
Yang penting sudah diingetin sekali. Kalau dia nggak terima, ya sudah. Itu hak-hak dia. Tapi kalau dia sudah sakit, baru datang. Aku bilang aja, tu garam di dapur, bakar aja.

Kadang teman yang di luar pun aku beritahu. Kamu kalau kerja, kerja aja. Tapi jangan ngedrugs. Nggak usah jauh-jauh, aku ini lihat. Kamu kira di penjara itu enak? Memang kalian datang besuk di sini, kelihatannya enak. Tapi jangan salah. Di penjara itu apa-apa dibatasi. Tidur ya bisa, TV juga ada. Tapi semua itu percuma kalau kita nggak bisa keluar. Sama kayak burung, dalam sangkarnya ada makanan, ada apa-apa. Tapi kalau di dalam situ terus, kan marah? Lagian entar kalau kita keluar gimana?

Tapi untuk berhenti, memang nggak bisa langsung. Harus bertahap. Seperti saya, dulunya pecandu ineks berat. Kadang juga ada keinginan make. Cuma biasanya pas ngobrol sama teman, jadi ringan. Kenapa aku di sini. Coba kalau aku masih di luar, pasti masih sama teman-teman jalan. Masih bisa ketemu siapa, ya pacar, orang-orang yang kita sayangi.

Di sini memang kita nggak terkekang. Memang sih di sini kata orang kayak di luar. Cuma bedanya, kita di sini nggak bisa keluar. Mainnya di situ-situ aja. Karena lingkungannya di situ-situ aja, kadang ada yang berantem.

Kalau keluar dari lapas, saya ingin berubah. Saya ingin berumah tangga, punya suami, punya anak. Saya hidup kemarin kan terlalu glamor. Di penjara ini baru merasakan. Saya ingin hidup normal. Tapi sebelumnya, saya ingin pulang dulu ke Sulawesi, nemuin orang tua. Mereka tidak tahu, dan tak ingin mereka tahu, kalau saya di penjara. Sampai sekarang, mereka cuma tahu saya ke Bali untuk main. Saya tidak ingin mereka kecewa punya anak seperti saya. [Seperti diceritakan pada Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 18, Juli 2006]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s