Klinik Keliling di Area Prostitusi

Kamar-kamar sempit di salah satu rumah di pesisir Desa Pengulon, Gerokgak, Buleleng, tiba-tiba disulap menjadi pusat layanan kesehatan, akhir Juni lalu. Satu kamar jadi tempat pemeriksaan fisik, satu kamar lainnya menjadi laboratorium. Bahkan ruang tamu dan bale bengong yang berbatasan langsung dengan pantai, juga disulap menjadi tempat registrasi dan ruang konsultasi dokter. Sebagian besar tenaga kesehatan dari Puskesmas Gerokgak II, pindah praktik.

Seorang perempuan, Rita, 36 tahun, datang bersama dua temannya. Untuk konsultasi. Ia mengaku bekerja di lokasi prostitusi ini. Ini memang bukan kali pertama Puskesmas Gerokgak II membuka layanan kesehatan di lokasi yang diperkirakan menampung sekitar 25 orang pekerja seks itu. Sudah sejak sekitar 6 bulan lalu, pemeriksaan keliling itu dilakukan rutin sebulan sekali. “Sempat dua bulan kosong, karena digerebek satpol PP,” kata IGN Anom Supradnya, Dokter Kepala Puskesmas Gerokgak II.

Inisiatif untuk melakukan pemeriksaan kesehatan keliling itu, muncul setelah Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) yang dibuka puskesmas sejak Februari 2005 ternyata tidak mendapat respon yang cukup baik. Tidak banyak pasien yang datang. Selain karena jarak yang jauh dan ketidaktahuan, diduga banyak pasien yang enggan datang karena malu. “Akhirnya kita jemput bola,” ujar Anom.

Awalnya, kegiatan serupa juga dilakukan di banyak lokasi lain di wilayah Gerokgak. Namun tanggapan positif hanya diperoleh dari warga Pengulon, sehingga hanya di lokasi itu saja kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin. “Saya ingin menjaga kesehatan anak-anak (pegawainya), juga kesehatan pengunjung,” ujar Wayan Sarija, 55 tahun, pemilik rumah. Secara kebetulan, kakek dua cucu ini mengaku sudah tak menampung seorang pun pekerja seks (PS) sejak 10 bulan terakhir. “Lagi sepi,” keluhnya.

Putu Sugiartha, penampung PS lainnya, juga menyambut baik layanan kesehatan keliling itu. “Kita harus ketat untuk mencari kesehatan,” kata pria yang kini menampung 3 PS itu. Tingginya mobilitas para PS, membuat penerima layanan kesehatan itu pun selalu berganti. Kepada PS baru seperti Rita, pihak puskesmas melakukan registrasi awal, dan memberikan kartu kesehatan untuk digunakan untuk pemeriksaan rutin selanjutnya. “Nggak masalah. Saya malah senang, untuk kesehatan,” tutur Rita polos.

Kepada para PS, pihak puskesmas juga memberikan beberapa bungkus kondom untuk digunakan dalam melayani tamu. Sayang, meski sudah diberi pemahaman, kondom-kondom itu seringkali tidak terpakai. “Kadang ada yang mau. Kadang ada yang nggak mau. Kalau nggak mau, ya mau gimana lagi,” ujar Rita. Tak sedikit perempuan seperti Rita yang terpaksa berhadapan dengan risiko dengan taruhan kesehatannya sendiri. Klinik keliling ini mencoba mengurangi risiko itu. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 19,Agustus 2006]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s