Putu Utami Dewi,Membangun Dukungan ODHA Bali

Rumah berukuran sedang di kawasan Sidakarya, Denpasar, mulai terlihat riuh ketika hari menjelang siang. Ada yang datang berkelompok, ada juga yang sendirian. Ada yang bergaya funky, berambut punk, ada juga yang tampil seadanya. Keceriaan terpancar jelas dari wajah-wajah mereka. Seperti tak ada beban, meski ada infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) di tubuh mereka.

Nyaris setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu, rumah yang disulap menjadi Kantor Yayasan Bali+ (baca: Bali Plus) itu ramai didatangi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Ada yang datang untuk berkonsultasi soal pengobatan, ada yang janjian bertemu teman, ada juga yang sekadar iseng. Kadang, ada juga teman atau keluarga para Odha yang datang hanya untuk berkonsultasi perihal kerabat mereka yang terinfeksi HIV.

Sejak berdiri awal 2004 lalu, Yayasan Bali+ memang seperti menjadi setetes air di padang pasir. Kelompok dukungan bagi Odha dan Ohidha (orang yang hidup dengan Odha) tersebut, seperti telah memberi satu harapan bagi mereka yang terinfeksi HIV. Ketika belum ada satu pun kelompok yang memberi dukungan bagi mereka, Bali Plus memberi ruang untuk itu. Tak cuma dukungan psikologis, akses untuk dukungan perawatan dan pengobatan juga dipermudah melalui lembaga ini.

***

Adalah Putu Utami Dewi, 32 tahun, yang menggagas kelompok dukungan bagi mereka yang hingga kini masih sering terstigma oleh masyarakat yang tak paham proses penularan HIV. Bersama empat rekannya, Putu Utami merintis Bali , awal 2003 lalu. Ketika itu, Putu Utami yang masih bekerja di sebuah yayasan penanggulangan AIDS di Bali menemukan banyak sekali Odha yang merasa denial (menolak) hasil tes HIV-nya. Pasalnya, banyak yang merasa tidak melakukan perilaku berisiko. Banyak diantaranya merupakan ibu rumah tangga “baik-baik” yang terinfeksi HIV dari suaminya yang hobi berganti-ganti pasangan atau pengguna narkoba suntik.

“Tujuan mendirikan Bali+ ini untuk mendukung Odha. Karena kita tahu, masalah yang dihadapi Odha sangat kompleks. Minim informasi, masalah diskriminasi juga. Ada konotasi di masyarakat, orang kena HIV itu adalah orang tidak baik-baik. Kalau baik-baik tidak mungkin kena. Ini jadi beban psikologis yang berat bagi mereka,” tegas Utami.

Banyaknya mis persepsi di masyarakat soal penularan HIV, membuat banyak orang ”baik-baik” yang merasa menolak ketika dinyatakan terinfeksi HIV. ”Jadi orang HIV butuh teman sesama mereka,” ujar ibu satu anak ini. Dari pemikiran itulah, Bali+ diharapkan membantu Odha mendapatkan dukungan psikologi. Meyakinkan bahwa dia tidak sendiri. Juga membantu menyampaikan ke pasangannya bahwa hidup dengan orang HIV bukanlah suatu masalah karena HIV tidak mudah menular. HIV hanya menular melalui pertukaran cairan kelamin dan darah.

Bali+ juga berupaya membantu mempermudah akses Odha ke layanan-layanan kesehatan. Pasalnya, tak sedikit tempat layanan kesehatan yang menolak menerima pasien Odha dengan beragam alasan tak masuk akal. ”Di Bali+, kami membukakan pintu, ke mana sih orang-orang yang positif bisa mendapatkan akses layanan. Di mana bisa akses obat. Dokter gigi mana yang bisa menerima pasien HIV. Rumah sakit mana yang bisa menerima pasien HIV? karena selama ini sebagian besar dokter saja masih takut menerima pasien Odha,” terangnya.

Satu hal penting yang selalu diupayakan Bali+, yakni membuka akses informasi ke keluarga Odha. Menurut Putu Utami, penting bagi Odha memberitahukan status HIV-nya kepada keluarga agar keluarga dapat membantu secara psikologis. Untuk itu, tentu saja perlu kesiapan mental dari Odha bersangkutan untuk mulai membuka diri dan statusnya kepada keluarga. ”Dukungan keluarga sebagai orang terdekat, sangat penting,”tegasnya.

Berkembangnya kasus HIV pada kelompok pecandu narkoba suntik, coba ditindaklanjuti dengan bekerjasama dengan yayasan penanggulangan narkoba. Secara terang-terangan, Putu Utami mengaku tak mampu menghandle Odha yang masih memakai drugs aktif. ”Kita hanya membantu dari segi HIV-nya,” jelasnya. Sampai di sini, Putu Utami ternyata masih menemui kendala. Banyak Odha mantan pengguna narkoba suntik yang merasa tidak nyaman berada di Bali+. ”Akhirnya kita rekrut beberapa pengguna narkoba suntik sebagai staf. Ternyata cukup berhasil membuat mereka nyaman,” ujarnya. Para Odha pengguna narkoba suntik mendapat tempat untuk sharing tentang pengobatan dan kontradiksinya dengan adiksi. Obat anti retroviral (ARV), obat penekan perkembangan Virus HIV, akan bereaksi negatif bila mereka make. ”Sekarang itu disadari sehingga beberapa orang yang sudah menjalani pengobatan, enggan untuk make (narkoba) lagi,” terang perempuan Bali itu.

Bercermin dari pengalamannya menangani Odha IDU, perempuan yang juga konselor HIV/AIDS ini juga melakukan upaya serupa terhadap kelompok waria, perempuan, dan kelompok-kelompok lainnya. Yakni, membuat mereka nyaman dengan salah seorang anggota kelompok mereka sebagai daya tarik. Cara ini ternyata efektif, hingga di akhir 2006 ini, sudah ada ratusan Odha memanfaatkan layanan dukungan Bali+.

Namun belakangan, Putu Utami kembali memutar otaknya. Bali+ tidak mungkin selamanya memberi dukungan satu arah bagi Odha, orang per orang. Putu Utami merasa perlu adanya dukungan sesama di antara para Odha. Kelompok dukungan sebaya untuk masing-msing kelompok kemudian di bentuk. Mulai dari kelompok dukungan sebaya bagi sesama Odha waria (Warcan+/ Waria Cantik Plus), sesama Odha perempuan (Kelompok Tunjung Putih), sesama Odha pecandu (Addict+ dan Club Hidup), dan sesama Odha pecandu yang menjalani terapi methadone (Methadone+).

Setelah hampir empat tahun, banyak hal yang dipelajari istri seorang pegiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang penanggulangan narkoba ini. Tentang bagaimana merangkul Odha dan menggali kebutuhan mereka, juga memberi dukungan buat mereka. ”Satu pelajaran berharga, sekarang saya tidak lagi membedakan kelompok-kelompok minor seperti gay, waria, atau bahkan pekerja seks. Saya merasa, kita ini manusia, sama. HIV membuka mata saya, bahwa nggak bisa ada kotak-kotak,” tegas Putu Utami.

Meski telah membangunkan sebuah kelompok dukungan bagi Odha di Bali, Putu Utami belum merasa puas. Informasi soal HIV yang terus berkembang, membuatnya merasa belum maksimal. ”Saya ingin ahli dalam bidang pengobatan orang HIV,” ungkapnya. [Komang Erviani]
——————————————————————–

Luh Putu Ike: Aku Jadi Banyak Belajar

Luh Putu Ike, 23 tahun, sempat syok ketika tahu suaminya yang seorang pecandu narkoba suntik dinyatakan terinfeksi HIV, tiga tahun silam. Perasaannya semakin kacau ketika dokter juga menyatakan virus yang sama juga ada dalam tubuh ibu satu anak itu. Belum lagi ketika jenazah suaminya yang meninggal karena infeksi oportunistik akibat infeksi HIVnya, tak diurus secara layak. Alasannya, masyarakat takut terinfeksi HIV. Padahal kematian orang HIV, secara otomatis membunuh virus HIV dalam darahnya. ”Aku sempat parno (paranoid). Suamiku meninggal setelah dinyatakan positif HIV. Aku pikir, aku juga akan langsung meninggal,” kenangnya.

Beruntung, Ike mampu keluar dari keterpurukannya setelah mengenal Bali+. “Di sana aku ketemu teman positif lainnya. Setelah mengenal Bali+, aku merasakan manfaat yang besar banget,“ begitu Ike. Tak cuma bisa belajar soal virus yang ada dalam tubuhnya, perempuan yang terinfeksi dari suaminya ini juga belajar banyak soal kehidupan. “Ada teman-teman pengguna narkoba suntik, ada pekerja seks, ada waria. Aku ambil pengalaman mereka,” ujar Ike sumringah.

Tak cuma itu, Ike mengaku jadi tahu info-info baru soal pengobatan, efek samping obat, dan berbagai hal baru lainnya.“Aku sempat punya pasangan positif (HIV,red). Setelah di Bali+ aku baru tahu kalau berhubungan seks tetap harus pakai kondom karena tipe virus kita beda-beda dan bisa memunculkan sub tipe virus jenis baru,“ ujarnya.

Sosok Putu Utami sediri, menurut Ike, merupakan sosok yang mampu memotivasi para Odha perempuan menjadi aktivis HIV/AIDS. Berkat motivasi itu sendiri, Ike kini seringkali mengikuti pertemuan-pertemuan Odha perempuan, bergabung dengan Ikatan Perempuan Positif Indonesia, dikenal orang, bahkan sempat bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Hari AIDS tahun lalu. ”Di hadapan pak Jusuf, aku bisa keluarin unek-unek masalah perempuan odha di daerah,” kenangnya.

”Di Bali, Bali+ saat ini merupakan satu-satunya yayasan yang khusus bergerak di bidang dukungan bagi Odha. Bali+ juga memotivasi komunitas Odha untuk membentuk kelompok-kelompok kecil,” tegasnya. Keberadaan Bali+, menurutnya sangat penting terutama bagi Odha yang masih dalam masa penyangkalan. ”Perlu untuk penguatan mental Odha. Kayak aku sekarang. Aku perempuan positif. Padahal aku merasa nggak pernah berbuat salah (melakukan perilaku berisiko,red). Apalagi, bukan hanya stafnya aja yang beri dukungan. Kita semua saling memberi dukungan,” terang Ike. Ia berharap bakal lebih banyak lagi kelompok dukungan bagi Odha dan Ohidha di Bali. [Komang Erviani]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s