Mati Muda Bunuh Asa

Dalam lima bulan, empat siswa di Bali mengakhiri hidupnya dengan gantung. Ada yang depresi ditinggal pacar, ada juga yang bosan disuruh belajar. Pola pengasuhan anak kini lebih mementingkan faktor materi.

Tak ada hujan, tak ada angin, Wayan Yasmini, 40 tahun, tiba-tiba merasa seperti disambar petir Selasa sore, 6 Desember 2006 lalu. Niatnya bertemu dengan sang putra, Made Sukadana, setelah hampir seharian membantu tetangga yang sedang menggelar upacara adat, tak terkabul. Berharap melihat keceriaan Sukadana, Yasmini justru menemukan bocah 13 tahun itu tergantung dengan sebuah dasi pramuka berwarna merah putih di plafon kamarnya. Berteriak, hanya itu yang bisa dilakukannya.

Ayah Sukadana, Wayan Wirka, 43 tahun, tak kalah kaget. Mendengar teriakan istrinya, Wirka yang sedang menunggui warung sayuran di depan rumah bergegas menuju kamar.. “Saya langsung angkat tubuhnya, tapi sudah tidak bernyawa lagi,”tuturnya. Terpukul, tentu saja. Apalagi selama iniYasmini dan Wirka merasa tak ada masalah dengan anaknya yang duduk di bangku kelas 2 SMP 1 Kerambitan, Tabanan itu. Hari itu, Sukadana tak menunjukkan perangai berbeda dari biasa. Sepulang sekolah, penari cilik yang pernah tampil di ajang Pesta Kesenian Bali 2003 itu beraktivitas seperti biasa. Makan siang, kemudian berangkat ke sawah mencari kangkung untuk pakan dua kelinci kesayangannya.Terakhir, Wirka melihat Sukadana menonton serial kungfu di televisi. Karena sudah makan, Wirka tak lagi memperhatikan gerak-gerik Sukadana. Ia tak mengira itu jadi saat terakhir bertemu dengan sang anak.

Aksi bunuh diri tersebut, tak hanya menggemparkan warga Dusun Penarukan Kaja, Penarukan, Kerambitan, Tabanan, tempat tinggalnya. Kenekatan Sukadana yang tidak diketahui penyebabnya itu, juga mengemparkan masyarakat Bali. Bagaimana tidak, ulah Sukadana telah menambah daftar panjang aksi bunuh diri di Bali, khususnya yang dilakukan oleh siswa. Sebelumnya, pada 11 September 2005, seorang siswa SMAN 1 Denpasar, AA Trisna Putra, juga telah ditemukan tewas gantung di kamar mandi rumahnya. Diduga, Tisna merasa frustasi setelah ditinggal pacarnya yang bersekolah di SMAN 4 Denpasar. Tidak itu saja. Seorang siswa kelas 5 SD di Dusun Siyakin, Kintamani, Bangli, juga mengalami nasib tragis 25 Agustus lalu. Wayan Tara, 12 tahun ditemukan tewas tergantung di pohon di sebuah tegalan. Penyebabnya sepele. Tara kelihatannya kesal karena sering disuruh rajin belajar oleh orang tuanya. Peristiwa bunuh diri oleh Sukadana, tampaknya tak akan jadi yang terakhir. Terbukti, hanya berselang sehari, pada Rabu 7 Desember, duka kembali berselimut gara-gara aksi bunuh diri. Kali ini menimpa keluarga

Made Paing, warga Banjar Nyaweh, Selulung, Kintamani, Bangli. Putranya, Ketut Ratmadi, 14 tahun, yang bersekolah di SMP Negeri 2 Kintamani, ditemukan tewas di pohon jeruk miliknya. Lagi-lagi, tak jelas apa penyebabnya. Sebelum ditemukan, Ratmadi terlihat baik-baik saja, malah tengah asyik menonton TV. Aksi bunuh diri, menurut psikiater dari Poliklinik Jiwa Rumah Sakit Sanglah, dr. Lely Setyawati, Sp.KJ., tak lepas dari kepribadian anak bersangkutan. Anak yang mudah emosional, cenderung sangat mungkin melakukan aksi-aksi nekat seperti bunuh diri. Meski demikian, faktor lingkungan justru dapat memegang peranan penting. Terutama terkait dengan pola pengasuhan oleh orang tua. Dikatakan Lely, banyak sekali anak-anak sekarang ini yang harus hidup di tengah kesibukan kerja orang tuanya. Akibatnya,. Pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua juga cenderung berubah.

Selain kuantitas pertemuan dengan orang tua yang menjadi barang langka, orang tua sekarang juga cenderung mengukur kemampuannya mengasuh anak dari sisi materi. Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan lingkungannya masing masing. Lely menyebut anak-anak sekarang cenderung belajar dari dirinya sendiri, atau teman teman seumurannya yang notabene masih memiliki tingkat emosional kurang lebih sama. “Orang tua jarang di rumah, anak diberi materi untuk memenuhi semua kebutuhannya. Orang tua biasanya melupakan faktor emosional. Minta apa-apa selalu dikasi. Sekalinya nggak dikasi, anak jadi emosi,”jelas ibu satu putri itu. Untuk tipe anak dengan emosional yang tidak stabil, menurut Lely, sangat mungkin mengambil jalan pintas (bunuh diri). “Tayangan-tayangan TV mungkin juga bisa mempengaruhi, tapi peranannya kecil sekali,”tambah Lely yang sudah 3 tahun menggeluti profesinya.

Secara medis, penyebab seseorang membunuh dirinya sendiri dapat dikelompokkan menjadi 3, yakni karena depresi, gangguan jiwa berat yang disertai halusinasi (sisofremia), serta impulsif (kecenderungan untuk bereaksi dengan cepat tanpa memikirkan akibatnya). Sekitar 80 persen kasus bunuh diri yang “sukses”, biasanya terjadi karena depresi. Namun sebagian besar kasus bunuh diri di kalangan siswa, disebabkan sifat impulsif yang memang umum dialami anak-anak dan remaja. Menariknya, sebagian besar pasien percobaan (gagal) bunuh diri yang kini tengah dikonseling Poliklinik Jiwa RS Sanglah, dipicu oleh sifat impulsif. “Yang masuk kelompok Impulsif biasanya anak-anak muda,”jelasnya. Dikatakan Lely, jumlah kasus bunuh diri yang “sukses” dan terungkap media, sebenarnya tergolong kecil dibandingkan total kasus percobaan bunuh diri. Setiap harinya, Poliklinik Jiwa RS Sanglah menerima sedikitnya 1 orang pasien baru. Modus yang diusahakan juga beragam. Mulai dari minum racun serangga, menyilet nadi, hingga gantung diri. “Jadi, sebulan kita rata-rata dapat 25 orang pasien yang gagal bunuh diri,”tutur Lely. Kisaran umurnya antara 10 tahun-75 tahun. Sebagian besar diantaranya berumur antara 20-23 tahun.

Lely mengaku, tak mudah melakukan pencegahan terhadap aksi-aksi bunuh diri. Apalagi untuk mereka yang cenderung impulsif. Ironisnya, ia melihat ada kecenderungan di masyarakat yang tidak peduli dengan sinyal-sinyal dari mereka yang hendak melakukan bunuh diri. Bagi mereka yang depresi misalnya, umumnya memperlihatkan kesedihan luar biasa, perasaan cemas, keluhan sakit, hilangnya nafsu makan, dan lainnya. Sementara di kalangan mereka yang mengalami sisofremia umumnya memperlihatkan perilaku sehari-hari yang nyeleneh. Berpenampilan aneh dan cenderung ngomong sendiri untuk merespon halusinasinya. Meski kecenderungan bunuh diri karena impulsif tidak dapat dideteksi semudah depresi dan sisofremia, namun secara umum anak-anak yang cenderung sering emosional perlu dapat perhatian lebih. Orang tua harus mampu memanajemen emosi anak, sehingga sewaktu-waktu tak mengarah pada tindakan nekat. Bagaimanapun, orang tua akan selalu menjadi faktor penentu masa depan anak-anaknya.[Komang Erviani]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s