Taman Koral Demi Moral

Sebuah taman terumbu karang dibangun di area yang bukan habitat terumbu karang. Media tanamnya dialiri arus listrik. Sedimentasi tinggi mengancam pertumbuhannya. Dibangun untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Setangkai bibit koral yang panjangnya tak lebih dari lima sentimeter, dipamerkan Wayan Patut kepada sejumlah turis di atas ponton berukuran sedang di perairan Sanur. Layaknya seorang pemateri, nelayan asal Desa Serangan itu serius menjelaskan cara-cara penanaman terumbu karang. Juga bagaimana cara perawatannya.”Bibit ini ditempel saja di atas substrat buatan, agar tidak goyang bila terkena arus,” jelas Patut.

Ketika briefing untuk penyelaman usai, semua wisatawan dibekali sebuah sikat halus berukuran kecil. Fungsinya, tak lain untuk membersihkan terumbu karang dari sampah dan kotoran-kotoran yang dapat mengganggu pertumbuhannya.

Wahana wisata Sea Walker, sebuah wahana berjalan di bawah laut dengan menggunakan helm khusus, kini punya objek baru yang ditawarkan kepada turis. Tak cuma menikmati keindahan terumbu karang buatan Sanur yang telah dirintis sejak akhir 2005 lalu, wisatawan juga diberi kesempatan untuk berperan serta merawat terumbu karang itu. Dengan dibekali sebuah sikat halus, para wisatawan dipersilakan membersihkan karang-karang itu. Bahkan untuk bisa ikut membersihkan karang-karang itu, wisatawan diwajibkan membayar biaya tambahan 5 dolar AS per orang, di luar biaya wajib sekitar 55-65 dolar AS.

Taman terumbu karang buatan di kedalaman sekitar 7 meter perairan Sanur, disebut dengan Taman Coral Sanur, memang telah menjadi daya tarik wisata baru dari Sanur. Pantai yang menjadi pintu masuk awaL para turis ke Bali di masa lampau itu, kini tak cuma dikenal karena sunrise, pasir putih, dan keunikan adat istiadatnya saja. Taman Coral Sanur juga jadi daya tarik tersendiri. Yang membuatnya makin unik, taman koral ditanam di area blank spot, area yang bukan habitat terumbu karang.

Taman Coral Sanur dirintis bersama oleh aktivis lingkungan, pengusaha, nelayan, dan masyarakat wilayah Sanur sejak Desember 2005 lalu. Pembangunan taman bawah air itu, menurut penggagasnya Made Mangku, bermula dari terjadinya erupsi pantai yang sangat memprihatinkan di Sanur. Karang yang ada di daerah Palung Semawang, yang berfungsi sebagai barier, rusak sekitar 80 persennya. Itu membawa Sanur masuk alam kategori tingkat kerusakan karang terparah diantara pantai-pantai lain di Bali.

Menurut Mangku yang juga Koordinator Tim Revitalisasi Palung Semawang, banyak penyebab rusaknya terumbu karang Sanur. Dulunya, banyak masyarakat setempat yang mengambil karang secara illegal. Karang-karang itu dulunya banyak dijual untuk bahan bangunan. Selain itu, terjadi juga penangkapan ikan secara serampangan. Banyak nelayan ikan hias yang melakukan penangkapan dengan sianida potasium.”Ini jadi penyebab paling parah karena bagaimanapun, terumbu karang paling takut dengan getaran. Kerusakan makin diperparah akibat pembuangan limbah yang langsung ke laut dari sungai di wilayah sekitar Denpasar. Terjadi pula penutupan terumbu karang oleh sampah-sampah plastik yang dibawa arus. Ini banyak terjadi pada setiap musim timur dan tenggara, sekitar bulan Juli dan Agustus.

Program transplantasi karang sanur, awalnya digarap secara komunal.
“Awalnya kita masuk dengan mengumpulkan teman-teman yang ada, pebisnis, pengusaha. Kita yakinkan mereka untuk kerjasama, ternyata pengusaha mensupport. Kita sama-sama urunan. Ada yang ngasi tangki, regulator dan masker untuk perlengkapan menyelam, ada yang kasi nasi bungkus, dan lain-lain,” kenang Mangku. Hingga kini, program revitalisasi terumbu karang tersebut sudah disupport 15 orang pengusaha watersport, kelompok nelayan, dan masyarakat setempat dari empat banjar dan satu kelompok, yakni dari Banjar Batu Jimbar, Banjar Semawang, Banjar Blanjong, Banjar Bet Ngandang, dan kelompok Tanjung.

Pada rencana awalnya, Taman Coral Sanur rencananya dibangun di atas lahan 5 Ha. Lahan yang semula hanya hamparan pasir itu, bakal dibagi dalam 3 zone. Terdiri dari zone kreatif, zone preservatif, dan zone konservatif. Taman Koral Sanur rencananya dibentuk dengan pola layaknya taman bunga. Ada pintu masuk di zona kreatif dengan deretan koral jenis acropora beraneka warna membentuk tulisan “Welcome to Sanur”.Tak kalah dengan taman-taman pada umumnya, ada juga terumbu yang membentuk pagar, rencananya memagari semua areal taman koral. Masing-masing zone, juga dipisahnya dengan pagar koral melintang. Taman Coral Sanur mengadopsi konsep pembangunan pura, dimana terbagi atas 3 area, jaba sisi (areal paling luar), jaba tengah (area tengah), dan jeroan (area dalam).

Zone kreatif rencananya dibangun seluas 2 Ha. Zone pintu masuk taman coral ini menggunakan infrastruktur beton sebagai media. Metodenya dengan transplantasi, menggunakan substrat buatan berupa plamir. Substrat digunakan agar bibit koral bisa tertanam dengan kuat. Sedikit goyangan, bakal memperlambat pertumbuhan koral. Penggunaan plamir sebagai substrat, dilakukan setelah sejumlah substrat lain dicoba. “Pernah saya coba semen putih, ternyata lambat. Tidak efektif. Pemilihan substrat yang tepat sangat penting karena kalau substrat mengandung zat yang tidak sesuai dengan karang itu, karangnya akan mati,” tegas Mangku.

Di zone kreatif, bibit karang dibiarkan tumbuh secara alamiah. Hanya diperlukan perawatan sekitar 10 hari sekali untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang dapat menggaggu pertumbuhannya. Dalam 6 bulan, pertumbuhan krang biasanya agak pelan. Namun pada bulan ke-3, karang akan tumbuh cepat, sekitar 3 cm per bulan. Tiga bulan pertama biasa disebut proses survive bagi karang untuk tumbuh. Meski demikian, perawatan tetap harus rutin dilakukan sampai karang berusia minimal 1 tahun. “0-1 tahun adalah masa paling penting. Setelah itu, dibiarkan saja, kuat dia,” tegas Mangku.

Di zone 2, atau zone preservatif yang direncanakan seluas 1,5 Ha, program transplantasi menggunakan sistem biorock. Media yang digunakan pada zone ini bukan lagi beton, melainkan besi. Untuk memicu pertumbuhannya, digunakan arus listrik bertegangan rendah 2,6 volt. Arus listrik berfungsi agar proses pengapuran lebih cepat sehingga lebih mudah menangkap mikroorganisme karang. Tapi teknik ini tak mudah, karena tangkapan soft coral dalam jumlah besar perlu dihindari. Soft coral yang tertangkap terlalu banyak dibandingkan hard coral justru dapat berdampak negatif bagi program transplantasi itu sendiri.

Sama dengan zone kreatif, koral di zone preservatif yang sudah dirintis April 2006 lalu juga membutuhkan proses survive. Bahkan proses survivenya lebih panjang, mencapai 6 bulan. “Karena di zone ini bisa ada goyangan. Kalau dengan media beton, angka hidupnya 90 persen. Dengan biorock, cuma 70 persen. Kecepatan tumbuhnya sama,” tambah Mangku yang Koordinator Sekretariat Kerja Penyelamatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup (SKPPLH).

Di zone akhir, zone konservatif, rencananya digunakan sistem tidal. Zone seluas 1,5 Ha tersebut bakal dibangun dengan konsep biorock, mirip zona preservatif. Bedanya, penggerak listrik yang digunakan dihasilkan dari turbin yang digerakkan ombak.

Hingga kini, pembangunan Taman Coral Sanur baru rampung sekitar 10 persennya. Di zone kreatif, sudah tertanam 50 are dari 2 Ha yang direncanakan. Masih ada sekitar 4000 bibit koral yang harus ditanam di zona ini. sementara di zone preservatif, baru tertanam 1000 bibit dari rencana 250.000 bibit. Zona konservatif rencananya baru akan dibangin di tahun ketiga, 2008 mendatang. Sejumlah terumbu karang dengan kerangka berbentuk mirip pura, akan dibangun di areal ini. Juga bakal dipasang prasasti-prasasti yang ditandatangani para pejabat.

Sensitivitas yang tinggi dari terumbu karang, membuat proses transplantasi karang harus memperhatikan banyak hal. Pasir yang stabil, air jernih, matahari bagus, dan arus tembus, sangat penting bagi pertumbuhan karang-karang tersebut. Intrusi yang tinggi dan banyak limbah, akan mempersulit pertumbuhan coral. Begitu juga pasang-surut air laut, adanya air rusak, ombak besar, dan air kotor, akan mempersulit pertumbuhan koral. Sementara untuk proses penanaman, musim paling baik adalah musim barat, sekitar Desember-Februari. Air yang tenang di musim barat, membuat proses penanaman menjadi mudah.

Suhu sedang juga sangat membantu. Suhu rata-rata daerah tropis, termasuk Indonesia, sangat bagus untuk pertumbuhan terumbu karang. Karenanya terumbu karang di negara ini sangat variatif dengan aneka warna.

Pemilihan lokasi blank spot, awalnya diharapkan untuk menghidupkan kembali tempat-tempat yang rusak oleh gerusan erosi. Ini menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, diperlukan media yang kuat memegang karang-karang tersebut. Meski begitu, bukan berarti tanpa kendala. Mangku sendiri mengaku kaget karena ternyata di areal penanaman terjadi sedimentasi yang sangat tinggi. “Sampai sekarang saya tidak berani janji ini akan berhasil atau nggak. Karena tingkat sedimennya tinggi,” tegas Mangku.

Dalam satu tahun, tingkat sedimentasi di areal penanaman mencapai hampir 80 cm. Penyebabnya, diperkirakan karena sedimen transport process atau arus yang membawa sedimen ke pantai, tidak stabil. Ini diperkirakan dampak proyek pengamanan Pantai Sanur yang dilakukan beberapa tahun lalu. Tidak stabilnya sedimen transport process membuat sedimen terbawa arus ke wilayah yang rendah, termasuk Palung Semawang. Palung Semawang yang dulunya sedalam 137 meter, kini makin dangkal menjadi hanya 90 meter. Tak pelak, ini memberi pengaruh pada pembangunan Taman Coral Sanur yang dibangun di sekitar Palung Semawang.

Ironis memang, karena tujuan awal pembangunan taman coral Sanur di area Palung Semawang adalah untuk meminimalisasi gerak arus langsung ke palung. Ini dilakukan untuk mengurangi erosi pantai gara-gara sedimen transport yang sempat terpotong oleh reklamasi pantai Serangan. “Ternyata tekanan sedimen transport jauh lebih besar. Saya justru khawatir kalau taman karang itu akan tertutup sedimentasi sepenuhnya,” keluh Mangku.

Sedimentasi yang tinggi, membuat terumbu karang yang telah tumbuh kini nyaris rata dengan pasir. Padahal saat penanaman awal, terumbu karang ditanam dengan media beton dan besi setinggi 160 cm. “Bayangkan, setahun sedimentasi 80 cm. Padahal pertumbuhan karang cuma 3 cm per bulan,” selorohnya. Karenanya, menurut Mangku diperlukan penyedotan pasir dari areal Taman Coral Sanur dengan teknik Traper Section Happer Drager (TSHD), teknik penyedotan pasir laut yang cukup ramah lingkungan.

Menurut Mangku, upaya mengantisipasi tenggelamnya seluruh Taman Coral Sanur sangat penting. Apalagi dana yang dikeluarkan secara swadaya oleh pengusaha, nelayan dan masyarakat Sanur tak sedikit. Diperkirakan, total dana yang sudah dikeluarkan mencapai Rp 500 juta. “Tapi kita tidak hitung secara riil. Itu hanya hitung-hitungan kasar dari biaya total yang diperlukan untuk semua sarana dan prasarana yang dikeluarkan secara swadaya,” tandasnya. Ada juga bantuan dana dari APBD Bali, serta bantuan sarana dari Departemen Kelautan dan Perikanan. Diperkirakan, total dana yang diperlukan untuk menyelesaikan keseluruhan Taman Coral sanur itu selama lima tahun mencapai Rp 9,6 miliar.

Dampak paling nyata dari pembangunan Taman Coral Sanur tersebut adalah meningkatnya populasi ikan, terutama ikan hias. Di areal yang tadinya tidak ada ikan, kini justru dipenuhi ikan-ikan berwarna-warni. Namun belum ada penelitian soal spesies ikan yang muncul di areal taman koral. Meski demikian, nelayan pencari ikan hias di wilayah Sanur masik dilarang melakukan pengambilan ikan di areal taman koral. “Nanti kalau semua selesai, baru boleh dimanfaatkan untuk bisnis,” ujar Mangku yang rencananya akan mengeluarkan sertifikasi untuk ikan-ikan yang diambil dengan cara ramah lingkungan dari Taman Coral Sanur.

Ketika menginjak tahun kelima, Taman Coral Sanur diharapkan bisa memberi manfaat ekonomi bagi kehidupan masyarakat Sanur dan sekitarnya. Taman Coral juga diharapkan menjadi destinasi wisata baru, yakni pariwisata bawah laut. Juga diharapkan bisa menjadi pusat penelitian bawah laut. “Tujuan awal kami pada dasarnya bukan untuk mengembalikan terumbu karang, tapi untuk beri paradigma berpikir yang benar untuk masyarakat,” tegas Mangku. [Komang Erviani]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s