Yang Beruntung di Tanah Rantau

“Morning… morning sir… morning miss.. ,“ kalimat itu terus berulang keluar dari mulut Jon (28 tahun) dan Soleh (23 tahun) setiap kali ada turis asing yang melintas di depan toko majikannya di Jalan Pantai Kuta Bali. Sesekali tangannya menunjuk ke arah produk-produk yang terpajang. Entah itu jam tangan, kacamata, T-shirt, tas, atau celana pantai. Begitulah cara sederhana Jon dan Soleh untuk menarik perhatian turis asing. Beberapa turis menyambut sapaan Jon dan Soleh dengan sapaan yang sama. Beberapa lainnya menghentikan langkah dan melihat-lihat produk yang ditawarkan. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan Jon dan Soleh agar sebisa mungkin si turis mau merogoh koceknya. “This is good,” begitu Jon bersemangat, sambil memperlihatkan sebuah tas jinjing bermerek Louis Vuitton. Tak lama, si turis Australia membayar lunas tas bermerk palsu tersebut.

Taktik manis Jon dan Soleh menarik pembeli, menjadi kunci kesuksesan mereka dan ribuan masyarakat Pulau Raas Madura Jawa Timur lainnya dalam mengadu nasib di Bali. Kuta, telah menjadi salah satu tujuan pilihan masyarakat Raas Madura untuk merantau dan mencoba peruntungan sejak puluhan tahun lalu. Maka, jangan heran bila ternyata sebagian besar artshop di kawasan Kuta dan sekitarnya dikelola oleh masyarakat Raas. Produk khas yang ditawarkan berupa beragam asesoris bermerk asing palsu, mulai dari jam tangan Rolex, Tag Hever, Diesel, Paul Frank, dan Seiko, kaca mata Gucci, asesoris Billabong dan Quicksilver, hingga tas jinjing Louis Vuitton. Semuanya bermerk aspal (asli tapi palsu).

Anehnya, banyak turis asing yang seolah tidak peduli dengan keaslian merk produk yang mereka beli. “Mereka tahu kok kalau palsu. Tapi mereka tetap suka. Terutama wisatawan Australia,” terang Haji Mahali, salah satu warga Raas yang sukses mengadu nasib di Bali dengan mengelola sebuah artshop di Kuta.

Ketika pertama kali tiba di Bali, sekitar 15 tahun lalu, majikan Jon dan Soleh ini bukan siapa-siapa. Dengan bekal seadanya, ia berangkat dari Raas dengan perahu menuju Pelabuhan Asem Bagus Situbondo. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan menuju melalui dengan bus. Sejak awal, Mahali yang ketika itu berusia 20 tahun memang bertujuan mencari pekerjaan. Ia ingin mencontoh kesuksesan banyak perantau Raas di Bali yang terlihat sukses ketika pulang kampung.

Tiba di Bali, Mahali yang berangkat dari Raas bersama seorang temannya, langsung menuju komunitas Raas di Kuta. “Ternyata semua teman-teman dari Raas ngacung (pedagang acung) di Kuta. Jadi, saya ikut,”kenangnya. Sebagian besar komunitas Raas di Kuta, memang memulai karirnya dari pedagang acung dengan produk khas, jam tangan bermerek aspal. Mahali memulai bisnisnya dengan bantuan modal dari teman sesama Raas. “Waktu itu dibantu modal separuh sama teman,” cerita Mahali. Begitulah modal sukses kebanyakan orang Raas di Kuta. Kedekatan secara emosional sebagai sesama Raas, ditambah rasa saling percaya di antara mereka, merupakan modal utama kesuksesan Raas dalam berbisnis di negeri orang. “Nggak ada perjanjian khusus untuk pinjam barang. Pokoknya kalau ada yang laku, saya kasi dia uang seadanya. Terserah kita,” terang Mahali.

Menjadi pedagang acung di Kuta, ternyata memberi angin segar pada Mahali. Hanya dalam hitungan minggu, ia sudah bisa ngacung dengan modal sendiri secara keseluruhan. Namun kerja Mahali bukan tanpa kendala. Di tahun 1993, semua barang dagangannya senilai total Rp 1 juta, hilang ketika ia lari dari kejaran petugas Dinas Ketentraman dan Ketertiban Kabupaten Badung. Meski begitu, Mahali berupaya untuk bangkit. Hasilnya pun tak mengecewakan. Penghasilannya per bulan ketika itu mencapai sekitar Rp 200 sampai Rp 300 ribu per bulan. Setidaknya, ia bisa naik haji pada tahun 1999 dengan hanya hasil ngacung.

Tantangan kembali harus dihadapi Mahali ketika pada tahun 2000. Desa Adat Kuta melarang para pedagang acung berkeliaran di wilayah Kuta. Hanya pedagang acung yang terdaftar di kawasan Pantai Kuta, yang diperbolehkan. Artinya, para pedagang acung harus memiliki kartu identitas anggota Persatuan Pedagang ………………………….
Mereka pun hanya diperbolehkan ngacung di dalam kawasan pantai. Bila keluar pantai, mereka akan mendapat peringatan. Bila peringatan selama tiga kali berturut-turut tidak diindahkan, maka identitas berdagang akan dicabut.

Gara-gara tak punya kartu anggota, Mahali dan sejumlah rekannya sesama pedagang acung asal Raas lantas berinisiatif menyewa toko di kawasan Jalan Pantai Kuta. Mahalnya harga sewa, membuat mereka memilih bekerjasama. Satu took disewa bersama dengan dua sampai lima orang Raas. Seperti dilakukan Mahali, yang menyewa toko sempit berukuran 3×3 m2 bersama seorang temannya seharga Rp 30 juta per tahun. “Karena sewa berdua, jadi ringan,” kenangnya. Setelah sewa tiga tahun habis, Mahali akhirnya bisa berdiri sendiri. Kini, ia menempati sebuah toko di kawasan yang sama berukuran 3 x 4 m, dengan harga sewa Rp 70 juta setahun. Minimal, Mahali harus menyewa toko milik warga asli Kuta itu selama tiga tahun. Tapi itu bukan masalah bagi pria asal Kelurahan Alas Malang Raas Madura ini. “Kalau pas ramai, cari 30 juta satu bulan sih gampang,” Mahali sedikit menyombong. Namun sekarang, diakui keuntungannya menurun. “Sebelum bom, dapat satu sampai dua juta sehari sudah biasa. Sekarang, dapat lima ratus sampai tujuh ratus ribu saja sudah lumayan,” ungkapnya.

Namun Mahali tak menyesal dengan kondisi saat ini. Setidaknya, ia masih menuai untung dari bisnisnya. Ia telah membangun sebuah rumah yang cukup mewah di Raas, juga menghajikan orang tua dan istrinya.

Mahali bukan satu-satunya orang Raas yang sukses merintis usaha di Bali dari nol. Bila berjalan di kawasan Jalan Legian, Jalan Pantai Kuta, hingga Seminyak, dan Kerobokan, ada banyak artshop yang ternyata dikelola orang Raas. Jumlahnya bahkan mencapai ratusan. Dulunya, orang Raas identik dengan produk-produk jam tangan bermerk palsu. Namun kini, produk mereka telah berkembang ke jenis lain. Tak sulit mengenali pedagang asal Raas di kawasan Kuta dan sekitarnya. Pada dasarnya ada dua tipe art shop milik Raas. Tipe pertama menjual produk-produk merek asing palsu seperti jam tangan, kaca mata, tas, serta pakaian. Sementara tipe kedua berupa kerajinan, umumnya berupa kerajinan kerang berupa aksesoris kalung dan gelang,ataupun peralatan rumah tangga berbahan dasar kerang.

Selain dikenal sebagai pedagang, suku Raas di Kuta juga menggeluti usaha kerajinan. Ada dua lokasi para perajin Raas di Bali. Lokasi yang tertua berada di kawasan Gang Lestari, Jimbaran. Di gang sempit ini, Ada lebih dari 700 kepala keluarga warga asal Raas. Semuanya hidup dengan menggantungkan nasib dari kerajinan tempel, kerajinan yang mengandalkan keahlian menempel hiasan-hiasan unik pada produk kerajinan. Ada mangkuk yang berhias kayu manis, bola-bola berhias batok kelapa, dan sejumlah kerajinan kreatif lainnya.

Haji Eno, adalah salah satu yang sukses membangun bisnisnya di gang sempit itu. Dari ruangan kerjanya yang hanya 3 x 3 m2, Haji Eno kini mengirim produk-produk kerajinan karya 50 orang warga Raas ke sejumlah negara. Mulai dari Malaysia, Thailand, Taiwan, Amerika, Denmark, sampai Spanyol. Sebuah laptop, lengkap dengan modem yang disambungkan ke saluran telepon, kini jadi andalannya untuk mencari pembeli dan menerima order via internet. Orderan yang diterimanya pun tak sedikit. Nilainyua rata-rata ratusan juta rupiah. “Barusan saya kirim barang ke Amerika. Nilainya sampai Rp 280 juta,” jelas bapak dua anak itu.

Bila melihat penampilannya, mungkin akan banyak orang yang tak percaya dengan sukses Haji Eno. Maklum, bahasa Indonesia saja, ia tidak fasih. Ada banyak kata-kata bahasa Indonesia yang tidak dimengertinya. “Saya dulu malah tidak bisa bahasa Indoesia sama sekali,” kenang Haji Eno.

Ketika nekat berangkat ke Bali dari rumahnya di Desa Alas Malang, Pulau Raas, tahun 1988 silam, Eno bahkan tak paham sama sekali dengan bahasa Indonesia. Maklum, ia hanya pernah mengenyam pendidikan sampai kelas 2 sekolah dasar. Hanya satu bahasa yang dikenalnya, yakni bahasa Madura. Tapi ia punya tekad. “Awalnya ingin cari pengalaman di Bali. Ingin bisa adu pikiran dengan orang asing,” ujar Eno.

Tapi angan Eno ketika itu, sempat kandas ketika ia menemukan kenyataan bahwa tidak mudah mencari pekerjaan di Bali. Ia bahkan pernah berdagang bakso demi mendapat sesuap nasi, sesuatu yang tabu bagi orang Raas di Kuta. Memang, berdagang makanan bukan hal biasa bagi masyarakat Raas di Bali. Berbeda dengan kesan umum soal orang Madura yang ahli berjualan sate, orang Raas seolah gengsi untuk menjalani profesi itu. “Nggak ada orang Raas jualan sate, jualan makanan,” cerita Haji Mahali. Kalaupun tak punya modal untuk berdagang, beberapa orang Raas memilih untuk menjadi guide di Kuta. Tentu saja, para guide asal Raas akan selalu mengajak tamunya berbelanja kepada para pedagang Raas. Kalau si tamu berbelanja, maka si guide akan mendapat rezeki dari komisi yang diberikan si empunya toko.

Tanpa keahlian berbahasa Indonesia, membuat Eno tak mudah mendapat pekerjaan. Namun setelah ia bertemu masyarakat Raas yang telah membangun komunitas di Jimbaran, ia mulai dapat titik terang. Eno bekerja pada seorang Raas sebagai perajin. Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar berbahasa Indonesia. Karena banyak orang asing di Bali, ia juga tertantang untuk mendekati mereka. Maka, di sela-sela waktunya berkreasi dengan kerajinan tempel, Eno juga mengikuti jejak rekannya berdagang acung di Pantai Kuta. “Biar bisa komunikasi sama bule. Saya ingin adu pemikiran sama mereka,” ujar Eno. Dari pergaulan pedagang acung itu juga, Eno mulai belajar berbahasa Inggris.

Peruntungan Eno memang bagus. Ketika ia belum cukup fasih berbahasa Inggris, seorang warga Negara Swiss mempercayakan perusahaannya untuk dikelola Eno. Kepercayaan yang sama kemudian juga dating dari seorang wisatawan asal Italia.

Di tahun 1994, barulah Eno mulai mencoba merintis usaha kerajinannya sendiri. Hasilnya, kini bisa dilihat secara kasat mata. Di ruangannya yang memang cukup sempir, Eno tak perlu berpanas-panasan karena ruangannya dilengkapi AC. Sebuah laptop juga menemani pekerjaannya. “Saya bersyukur,” ujar Eno. Kini, ada puluhan pengusaha Raas lainnya di Gang Lestari Jimbaran.

Komunitas Raas di Bali, memang luar biasa banyak. Selain di Kuta dan Jimbaran, komunitas ini juga dapat dengan mudah ditemui di kawasan Suwung Denpasar. Jaraknya tidak jauh dari Kuta. Hanya sekitar beberapa ratus kilometer dari perbatasan Denpasar dan Kuta. Gang Wijaya III, merupakan basis warga Raas lainnya. Namun lokasi ini baru berkembang sejak sekitar tahun 2000 lalu, ketika tempat tinggal para warga Raas diLegian tergusur. Setelah masa kontrak mereka habis, parawarga Raas tidak diperbolehkan memperpanjang kontraknya di lokasi lama. AKibatnya, mereka secara bersama-sama mengontrak tanah di wilayah Suwung. Bangunan rumah pun dibuatsecara bergotong royong. “Kami biasa bekerjasama,” ujar Haji Husin, salah seorang Raas di Suwung. Di lokasi ini, jumlah warga Raas juga tak terlalu banyak, hanya sekitar 100 KK. Semuanya berprofesi sama, perajin tempel. Ada yang sukses, ada juga yang hidup pas pasan.

Namun nyaris semua warga Raas, mengaku betah tinggal di Bali. Tak ada satupun yang menyatakan ingin kembali ke wilayahnya. Tak terkecuali Salam, bapak dua anak yang sudah puluhan tahun masih bekerja sebagai pedagang acung di Pantai Kuta. “Kalau di Raas, nggak ada kerjaan,” ujarnya. Mereka pun merasa suasana berusaha di Bali, cukup kondusif. Tak ada rasa iri atau persaingan tidak sehat dengan warga pribumi. “Kalau kita baik, mereka pasti juga baik,” ujar Mahali. Hal senada juga disebut Haji Eno. “Sejauh ini, saya merasa baik-baik saja dengan warga asli,” ujarnya.

Di sisi lain, warga asli Bali pun mengaku sama sekali tak terusik dengan kesuksesan warga Raas di wilayahnya. Bahkan, beberapa pemilik artshop asal Kuta, mengaku bersyukur dengan keberadaan warga Raas. “Cuma mereka yang berani bayar sewa mahal,” ujar Kadek Sri Hartini, salah seorang pemilik artshop asal Kuta. Menurut Sri Hartini, warga Raas justru memberi keuntungan tersendiri bagi warga asli Kuta yang kini hanya menggantungkan hidup dari pariwisata. Pasalnya, hasil dari berdagang tidak cukup menjanjikan. “Jadi, rata-rata masyarakat asli sini menyewakan sebagian tanahnya. Cuma sebagian kecil yang disisakan untuk berjualan,” ungkap Sri.

Kehadiran warga Raas di Kuta, juga sama sekali tak mengusik hati Nyoman Medang, pemilik artshop asal Karangasem Bali. “Mereka saling percaya. Itu keuntungan buat mereka. Jadi kontrakan ditanggung bersama. Nggak berat,” ujar Medang, yang mengaku kewalahan membayar sewa artshopnya yang seluas 4×5 m seharga 45 juta setahun. Medang bahkan mengaku tak mampu lagi membayar sewa, sehingga berencana menutup pusahanya sampai habis masa kontraknya pertengahan tahun ini.

Hidup di perantauan, sudah menjadi sesuatu yang lazim bagi warga Pulau Raas, Madura. Bali menjadi tempat tujuan rantau yang paling favorit bagi mereka. Kunci keberhasilan mereka hanya satu, yakni kebersamaan dan rasa saling percaya. [Komang Erviani / Dimuat di Majalah GATRA Nomor 25 Beredar Kamis,3 Mei 2007]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Komunitas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s