Taman Koral Berbasis Masyarakat Adat

Sebuah taman koral seluas 2,5 hektar, sukses dibangun dengan teknik biorock di kedalaman 15 meter laut Pemuteran, Buleleng, Bali. Mustahil tanpa keterlibatan warga desa.

BULELENG (SINDO)-Kadek Dharma (19 tahun) bersama tiga temannya, tampak kelelahan setelah hampir satu jam berada di kedalaman 15 km laut Pemuteran, Buleleng Bali, sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Denpasar. Masing-masing dari mereka membawa sekantung besar sampah plastik. “Sampah di bawah (laut,red) sebenarnya masih banyak, tapi nggak mungkin kami ambil semua, Jadi, kami ambil setiap hari semampunya,” cerita warga asli Desa Pemuteran Buleleng itu.

Dharma dan ketiga temannya merupakan anggota Reef Gardener, sebutan bagi para petugas kebersihan bawah laut pemuteran. Sehari-hari, Reef Gardener bertugas membersihkan terumbu karang di laut Pemuteran dari sampah plastik. “Karena terumbu karang akan terganggu kalau ditutupi sampah plastik,” Dharma menjelaskan.

Tidak cuma Dharma yang merasa peduli dengan kehidupan terumbu karang laut di wilayah Desa Pemuteran. Made Gunaksa misalnya, kini menjadi salah satu dari 28 anggota pecalang laut Desa Adat Pemuteran. Pecalang merupakan kelompok pengamanan swakarsa oleh masyarakat adat di Bali. Seperti namanya, pecalang laut punya tugas khusus mengamankan laut di wilayah Desa Adat Pemuteran. “Kami berpatroli setiap hari. Kalau ada nelayan yang tertangkap basah menangkap ikan hias dengan potasium, langsung kami tangkap,” terang pria yang sehari-hari juga menjadi guide diving untuk tamu mancanegara itu.

“Desa kami benar-benar serius menjaga kelestarian terumbu karang di sini,” demikian Wayan Siram, tokoh masyarakat di Desa Adat Pemuteran. Pernyataan Siram cukup beralasan. Selain memiliki reef gardener dan pecalang laut, Desa Adat Pemuteran juga memiliki hamparan taman koral buatan seluas 2,5 hektar di bawah laut. Taman koral di kedalaman 15 meter tersebut, dirintis bersama pada tahun 2000 lalu antara warga masyarakat dan pengusaha pariwisata setempat.

Lewat sebuah yayasan bernama Yayasan Karang Lestari, masyarakat kembali menghijaukan wilayah laut pemuteran yang kritis ketika itu. Banyaknya aksi penangkapan ikan hias dengan bom potassium sejak tahun 1990-an, membuat kawasan laut Pemuteran sangat tidak menguntungkan bagi nelayan setempat. “Dulu kami kesulitan cari ikan. Sekali melaut, paling cuma dapat satu kaleng ikan teri batu. Padahal kalau normal, seharusnya dapat 60 sampai 70 kaleng,” kenang Komang Madiarta, nelayan setempat. Padahal, desa dengan 2000 kepala keluarga atau 8000 jiwa itu sangat menggantungkan hidup dari aktivitas melaut. Geografis desa yang kering, membuat warga hanya bisa bertanam jagung pada saat musim hujan. Buah pahit yang dipetik nelayan setempat, menjadi titik balik kesadaran mereka untuk menjaga laut Pemuteran.

Kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan taman koral di Pemuteran. Untuk mempercepat proses konservasi terumbu karang di Pemuteran, diterapkan teknik transplantasi karang dengan arus listrik. Teknologi dari Jerman itu disebut dengan biorock. Arus listrik tegangan rendah digunakan untuk mempercepat pertumbuhan karang. “Teknik biorock memungkinkan pertumbuhan karang lima sampai delapan kali lebih cepat dari pertumbuhan normal,” terang Agung Prana, Ketua Yayasan Karang Lestari.

Hasil konservasi laut pemuteran, kini sudah terlihat jelas. Sebanyak delapan puluh jenis terumbu karang dengan ratusan spesies ikan, tumbuh subur di lahan 2,5 hektar laut Pemuteran. Bahkan hanya beberapa belas meter dari sana, kini sudah dibangun sea garden, sebuah taman bawah laut yang juga dibangun dengan teknologi biorock. Bedanya, arus listrik di sea garden digerakkan oleh tenaga surya.

Sea garden dibangun dengan meletakkan enam buah bangkai kapal, puluhan patung budha, serta onggokan-ongokan bangunan tua di kedalaman 20 meter sebagai kerangka terumbu karang. Ada dua site menarik di dalam sea garden, yakni Pura Tembok dan Tangkad Jaran. “Jadi kami seperti memindahkan taman ke laut,” cerita Prana.

Hasil konservasi terumbu karang Pemuteran, juga terlihat dari banyaknya taman-taman koral yang terbentuk secara alamiah di sekitar laut Pemuteran. “Sekarang, kita nggak sulit lagi cari ikan,” terang Madiarta. Masyarakat Pemuteran kini juga tak hanya menggantungkan hidup dari bertani dan mencari ikan. Daya tarik pelestarian lingkungan membuat minat turis asing berkunjung ke Pemuteran makin tinggi. “Sekarang banyak warga kami yang kerja di hotel, juga guide. Perekonomian masyarakat malah meningkat. Makanya kami pikir, kalau bukan kami yang menjaga laut di sini, siapa lagi,” ujar Siram bangga.

Keberhasilan konservasi terumbu karang di Pemuteran, menurut Agung Prana, tak lepas dari pelibatan dan dukungan penuh dari warga desa setempat. “Teknologi biorock ini terbukti gagal di Maldiv dan Filipina. Kunci keberhasilan di Pemuteran adalah community development. Tanpa itu, teknologi apapun akan jadi percuma. Mustahil bias berhasil,” terang Prana [Ni Komang Erviani/ dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 6 Desember 2007 ]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Lingkungan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Taman Koral Berbasis Masyarakat Adat

  1. adam says:

    Hello I just entered before I have to leave to the airport, it’s been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is

  2. adhitya says:

    memang indah ya? mbak ada informasi tempat-tempat wisata yang berbasis masyarakat gak mbak, atau mungkin ada website yang bisa jadi referensi.. terima kasih.. mohon petunjuk..
    saya mau reportase untuk community-based tourism.
    adhitya.hadi@google.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s