Anak-anak dan Gombal Warming

KUTA – Ada aksi tebang pohon di Kuta. Korbannya dua batang pohon. “Apa yang dikisahkan sebatang -pohon ketika ditebang?” teriak sejumlah anak-anak sanggar kesenian Bajra Sandi, membacakan puisi karya sastrawan Bali Cok Sawitri. Anak-anak lain lantas muncul dalam kostum pelepah pisang kering. Mereka mencoba mengungkapkan betapa aksi tebang pohon menyebabkan kekeringan di mana-mana.

Ini memang bukan aksi tebang pohon sungguhan, melainkan sebuah aksi teatrikal yang ditampilkan sekitar 35 anak-anak dan remaja akhir pekan kemarin. di Aula Kantor Kelurahan Kuta, Badung, Bali. Mereka tampil dengan sebuah aksi teater berjudul Tanah Air Api, yang mengungkap betapa aksi penebangan sebatang pohon telah merusak lingkungan di masa sekarang dan masa depan.

Aksi teatrikal Tanah Air Api digelar dalam rangkaian kegiatan Alam Raya Milik Bersama, serangkaian kegiatan dialog, workshop, proses kreatif, dan pertunjukan seni. Alam Raya Milik Bersama gelaran Kelompok Tulus Ngayah dan Institute for Global Justice bakal dilaksanakan sampai Senin (10/12) ini.

Menurut Koordinator Kelompok Tulus Ngayah, Cok Sawitri, Perayaan Alam Raya Milik Bersama dilaksanakan untuk sekadar memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat terkait isu global warming. Pasalnya, menurut Cok, bahasa-bahasa yang digunakan dalam sidang UNFCCC terlalu tinggi bagi masyarakat. Sebagian besar dari masyarakat bahkan merasa tidak punya kepentingan dengan global warming. “Padahal, yang bakal merasakan dampak langsung global warming kan masyarakat juga. Yang sekarang banyak dibahas di Nusa Dua, kami lihat sebagai gombal warming,” keluh Cok yang mengenakan kaos bertuliskan “gombal warming”.

Untuk lebih mendekatkan pemahaman global warming kepada masyarakat, jelas Cok, masyarakat adat juga dilibatkan penuh dalam kegiatan tersebut. Selain itu, sejumlah guru taman kanak-kanak juga diminta pelibatannya. “Karena guru TK adalah penyampai pesan pertama untuk anak-anak kita. Jadi mereka bisa sampaikan pesan global warming dengan benar,” ujar Cok.

Meski masih usia dini, anak-anak sanggar seni Bajrasandi rupanya cukup mengerti dengan makna tari yang mereka bawakan malam itu. Kadek Evi Andriani (11 tahun) misalnya, mengaku tidak senang melihat orang menebang pohon. “Kan kasihan kalau ditebang. Nanti panas,” ujar bocah kelas lima sekolah dasar yang berperan sebagai pohon.

Pendapat Ade Agoes Kevin (7 tahun) tak jauh beda. Meski hanya berperan sebagai pemegang payung, Kevin tegas menolak aksi penebangan pohon. “Takut. Kan nggak boleh tebang pohon. Nanti Tuhan marah,” ujar Kevin ketika ditanya pendapatnya tentang aksi tebang pohon. [Ni Komang Erviani]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Lifestyle. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s