Jangan Anaktirikan Pertanian dan Kelautan

PARIWISATA merupakan prospek investasi yang masih diandalkan di Bali,namun potensi pertanian dan kelautan juga patut menjadi andalan.

Akan sangat bagus menggabungkan pariwisata, pertanian, dan kelautan menjadi sinergis. Wisata terpadu menjadi pendidikan Pemerintah Provinsi Bali. Kesuksesan Bali Tourism Development Center (BTDC) Nusa Dua akan ditiru untuk diterapkan di berbagai kabupaten di Bali.

Salah satu kawasan yang bisa dikembangkan adalah Batu Ampar, Grograk, Buleleng dengan pasir putihnya dan daratan yang datar menawarkan prospek untuk dibangun kawasan pariwisata terpadu. Di wilayah-wilayah tersebut bisa dibangun, hotel, restoran, taman rekreasi, dan pusat perbelanjaan.

Pengembangan pariwisata terpadu juga bisa dilakukan di Pulau Nusa Penida, Klungkung. Tren pariwisata ke depan lebih mengarah ke ekowisata. Untuk itu, kawasan yang bisa dikembangkan adalah kawasan agrowisata komoditas kopi arabika dan jeruk di Kintamani, Bangli.Pengembangan kawasan agrowisata buah salak di Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, juga belum mendapat perhatian penuh.

Bekerja sama dengan masyarakat setempat akan semakin menguntungkan dan memudahkan bagi investor asing dalam pengelolaannya. Pengembangan kawasan pariwisata di Bali lebih mengarah ke Bali bagian utara, yaitu kabupaten Buleleng. Pariwisata di Bali timur juga bakal mendapat prioritas sebagai tempat berinvestasi terutama untuk investor asing.

Arah pengembangan investasi ke daerah barat dan timur bertujuan untuk menyeimbangkan investasiinvestasi di Bali. Sejak 1960-an sampai 2000, konsentrasi investasi lebih mengarah ke Bali bagian selatan, yaitu Kabupaten Badung dan Kota Denpasar dengan Kuta, Nusa Dua,Jimbaran dan Sanur sebagai sentra.

”Badung dan Denpasar sudah mengalami titik jenuh sebagai tempat investasi sektor pariwisata,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bali I Made Kandiyuana. Sektor pertanian dalam arti luas akan diarahkan pada pertanian yang mendukung berkembangnya industri pariwisata di Bali.

Masih jarangnya hotel, terutama hotel berbintang di Bali, menggunakan produk pertanian lokal sebenarnya menjadi tantangan tersendiri bagi investor asing. Mereka tidak perlu lagi memerlukan pasar untuk produk pertanian karena sudah ada ribuan hotel dan ribuan restoran yang siap menampung hasil produksi.Tetapi dengan catatan, produk pertanian pada kualifikasi ini harus memenuhi standar internasional.

Produk pertanian yang bisa digarap oleh investor asing di Bali adalah jeruk, salak, anggur, durian, mangga, manggis, dan stroberi. Khusus untuk Kabupaten Jembrana saja, produk total buahbuahan mencapai 35.655 ton per tahun. Investasinya akan diarahkan ke peningkatan budi daya dan pemasaran. Akan menjadi sebuah keunggulan jika investornya membangun perusahaan pengolahan buah karena jika panen maka buahnya akan melimpah.

Selain buah, investasi pertanian mengarah sayur-sayuran juga cukup prospektif. Sektor kelautan yang seharusnya mendapatkan prioritas unggulan adalah budi daya perikanan. Kalau melihat di Kabupaten Buleleng, potensi budi daya perikanan masih sangat terbuka luas.Apalagi didukung adanya budi daya nener di Gerogak, Buleleng, sebagai tempat pengembangan terbesar di Asia Tenggara.

Selain itu, potensi budi daya ikan hias bisa mencapai seluas 27,32 hektare, potensi budi daya ikan kerapu mencapai 500 hektare, budi daya rumput laut seluas 250 hektare. Budi daya tambak udang tak kalah menariknya.Tambak udang mempunyai potensi untuk dikembangkan seluas 500 hektare,tidak ketinggalan adalah potensi budi daya mutiara seluas 250 hektare.

”Penguatan investasi di sektor pertanian dan kelautan akan menciptakan fondasi yang kuat bagi perekonomian Bali,” ujar Kandiyuana. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu tidak diinginkan menghancurkan pariwisata Bali (semoga tidak pernah lagi), maka perekonomian Bali bisa bergantung ke sektor selain pariwisata. (andika hendra mustaqim/ ni komang erviani / dimuat di Koran SINDO Edisi Minggu, 23/12/2007 )

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Ekonomi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s