Harga Emas Makin Tak Stabil

DENPASAR (SINDO) – Harga emas di Denpasar makin tidak stabil. Berdasarkan pantauan SINDO di sentra penjualan perhiasan emas di Jl. Hassanudin Den pasar Bali Senin (24/12) kemarin, perhiasan emas dengan kadar 18 karat dijual dengan harga Rp. 185 ribu per gram. Padahal seminggu lalu, harganya cuma Rp. 170 ribu per gram. Sementara harga emas dengan kadar 22 karat dijual Rp. 200 ribu per gram, naik dari Rp. 190 ribu per gram.

Menurut salah seorang pedagang , Jupri, harga emas makin tidak stabil sejak enam bulan terakhir. Pria berusia 31 tahun itu menduga ketidakstabilan harga emas terkait dengan lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menyentuh USD 94.per barel. “Kayaknya sih karena harga minyak dunia yang katanya naik,” ujarnya.

Ketidakstabilan harga emas, menurut Jupri, telah membuat nasib pedagang emas makin tidak karuan. Pasalnya, pedagang seringkali harus menanggung rugi bila harga emas tiba-tiba anjlok. Pasalnya, harga emas dapat berubah setiap waktu. Padahal sebelumnya, harga emas bisa bertahan pada nominal yang sama hingga berbulan-bulan. “Kalau dulu, emas bisa bertahan di harga yang sama sampai enam bulan atau satu tahunan. Kalau sekarang, harganya makin nggak karuan. Sekarang naik, besok bisa turun. Risiko ruginya banyak,” keluh Jupri.

Hal senada juga disampaikan Wayan Sani, pedagang emas lainnya. Dikatakan Sani, harga emas yang tidak stabil membuatnya harus sangat berhati-hati menentukan harga jual. Karenanya, setiap saat ia harus selalu memantau harga umum. “Biar nggak rugi. Kalau salah harga, nanti rugi,” terangnya.

Meski harganya tak stabil, perdagangan emas di Denpasar tetap ramai. Apalagi terkait serangkaian hari raya Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru ini. Sejumlah warga Denpasar memilih berbelanja perhiasan emas untuk dikenakan di hari raya. Namun sejumlah pedagang mengaku belum ada peningkatan penjualan dari hari-hari biasa. Jupri misalnya, mengakui omset penjualannya masih normal di kisaran Rp. 20 hingga 25 juta per hari.

Salah seorang konsumen, Novita, mengaku tak khawatir dengan ketidakstabilan harga emas. Ditemui sesaat setelah membeli sebuah kalung emas di salah satu toko emas Jl. Hassanudin, perempuan asal Manado itu mengaku tetap senang menabung dalam emas. Menjelang Natal, ia sengaja membeli sebuah kalung emas agar bisa dikenakan di Hari Natal. Dikatakan, investasi emas tetap paling aman dan menjanjikan.“Biar bisa dipakai Natalan, sekaligus nabung,” terangnya. [ni komang erviani]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Ekonomi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s