Hujan, Beban Listrik Bali Turun

DENPASAR (SINDO) – Hujan lebat yang melanda Bali sejak seminggu terakhir, membuat konsumsi listrik berkurang. Bahkan tepat di hari Natal, beban puncak konsumsi listrik hanya mencapai 391 megawatt (MW). Padahal dalam kondisi normal, beban puncak di Bali mencapai rata-rata 440 MW.

Humas Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Distribusi Bali, I Wayan Redika, menjelaskan, menurunnya beban puncak listrik sudah terasa sejak satu minggu terakhir. Pada malam Natal, Senin (24/12) misalnya, beban puncak hanya mencapai 405 MW. Padahal beban puncak di malam Natal biasanya mengalami kenaikan karena banyaknya kegiatan yang dilakukan untuk perayaan. Beban puncak pada malam Natal tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai lebih dari 440 MW.

Tak cuma pada malam Natal, penurunan beban puncak juga terjadi tepat di hari Natal. Berdasarkan catatan PLN Distribusi Bali, beban puncak pada Selasa (25/12) hanya mencapai 391 MW.

Penurunan konsumsi listrik diperkirakan karena hujan lebat yang terjadi hampir sepanjang hari seminggu terakhir telah menyebabkan berkurangnya aktivitas masyarakat. “Mungkin Karena malam Natal tahun ini hujan, jadi aktivitas sedikit, dan AC (Air Conditioner,red) tidak dinyalakan,” terang Redika kemarin.

Meski demikian, hujan lebat yang sesekali diikuti angin kencang membuat banyak gangguan instalasi kabel PLN. Volume gangguan mencapai dua sampai tiga kali lipat dari hari biasa. Dijelaskan Redika, dalam cuaca normal petugas PLN hanya menangani rata-rata 2 sampai 3 gangguan per hari. Memasuki musim hujan dan angin seminggu belakangan, gangguan yang harus ditangani mencapai 7 sampai 10 gangguan per hari.

Gangguan instalasi listrik terutama terjadi akibat kabel yang terputus karena pohon tumbang, atau ranting pohon yang patah. Oleh pihak PLN, gangguan ini biasa disebut gangguan penyulang. Namun gangguan yang terjadi hingga saat ini belum terlalu mengkhawatirkan karena tidak menyebabkan kerusakan permanent. “Gangguannya masih ringan, tidak sampai memutus aliran listrik secara besar-besaran,” Redika menjelaskan.

Menghadapi Tahun Baru 2008 mendatang, Redika tegas menyebut pasokan listrik Bali masih aman. Beban puncak yang tersedia di seluruh wilayah Bali mencapai total 562 MW. Pasokan listrik Bali saat ini mengandalkan dari empat sumber, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Pemaron Buleleng sebesar 80 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesek (PLTD) Pesanggaran Denpasar sebesar 152 MW, PLTG Gilimanuk sebesar 130 MW, serta listrik dari Pulau Jawa lewat kabel laut sebesar 200 MW. Redika berharap masyarakat mau berhemat listrik dalam tahun baru mendatang, untuk mengurangi beban listrik di Bali.[ni komang erviani]

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Ekonomi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s