600 Masyarakat Bali Bermaafan Pasca Nyepi

Okezone – Sabtu, 15 Maret 2008 – 21:32 wib

DENPASAR – Sepekan paska Hari Raya Nyepi, sekitar 600 orang masyarakat Bali melakukan tradisi Dharma Santi (saling bermaafan) di Gedung Natya Mandala Institut Seni Denpasar, Jl. Nusa Indah Denpasar, Sabtu (15/3/2008). Dharma Santi merupakan kegiatan wajib yang harus dilakukan masyarakat Hindu dalam kurun satu bulan setelah Nyepi. Selain kegiatan formal, masyarakat umum juga wajib melakukan kegiatan serupa antar tetangga, kerabat, dan saudara.

Dalam Dharma Santi tingkat Provinsi Bali, hadir masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai dari pejabat publik, tokoh agama, akademisi, hingga masyarakat umum. Dalam kegiatan tersebut, peserta juga dihibur oleh beragam tarian tradisional Bali seperti Tari Rejang dan Tari Saraswati. Gubernur Bali Dewa Made Beratha dalam sambutannya menyebutkan perlunya rekonstruksi pemikiran dan membangun identitas diri bagi masyarakat Bali. Pasalnya, di tengah tantangan global saat ini, terkikisnya identitas diri menjadi ancaman besar. “Lebih baik lagi bila diikuti oleh sastra agama,” terangnya.

Beratha juga berharap masyarakat menghilangnya berbagai prasangka buruk antar sesama, yang kini makin subur di masyarakat. Menurutnya, masyarakat Bali harus mampu memaknai Hari Raya Nyepi tahun ini dengan perbaikan diri.

Tokoh agama Hindu I Gusti Gede Ngurah menjelaskan bahwa Dharma Santi paska Nyepi sangat penting sebagai media dialog antar sesama tentang apa dan bagaimana hal-hal yang sudah dan yang akan datang.

Setelah berbagai rangkaian panjang menjelang Nyepi, masyarakat menurutnya harus mampu berjalan dengan berpijak dari pengalaman satu tahun lalu. “Ini jadi momentum bagaimana kita bisa jalan dengan berpijak dari pengalaman kita selama ini,” terangnya.

Melalui tradisi Dharma Santi, masyarakat diharapkan bisa saling memaafkan jika ada kesalahan yang sengaja maupun tidak. “Ini juga forum penting untuk berbincang perihal kehidupan bangsa kita ke depan di tengah berbagai multi saat ini. Baik multi etnis, multi karakter, hingga multi kulturan. Ini adalah ajang berdialog antar sesama tentang berbagai aspek kehidupan,” tambah Ngurah.

Sebelumnya, rangkaian Hari Raya Nyepi sudah dilaksanakan oleh umat Hindu. Di antaranya ritual melasti (pembersihan diri) sepekan sebelum Nyepi, tradisi pengerupukan (membersihkan lingkungan dari pengaruh jahat dengan simbolisasi ogoh-ogoh,red) sehari sebelum Nyepi, hingga ngembak geni (silaturahmi antar keluarga,red) sehari setelah Nyepi. (Ni Komang Erviani/Sindo/ahm)

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Balinese. Bookmark the permalink.

One Response to 600 Masyarakat Bali Bermaafan Pasca Nyepi

  1. luhde says:

    non, wah kalau untuk media lokal ga layak naik ni. hahaha… jangankan 600 orang, sebut aja 3 juta penduduk bali saling bermaafaan. keto kone… hehee…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s