Silent Day, 9 Bayi Dihadiahi Pohon

Okezone – Sabtu, 22 Maret 2008 – 22:49 wib

DENPASAR – Sembilan bayi di Rumah Sakit Sanglah tiba-tiba dihadiahi bibit pohon. Pohon-pohon tersebut diberikan khusus kepada bayi yang lahir pada World Silent Day (hari hening sedunia), 21 Maret lalu.

Bibit pohon yang diberikan kepada bayi-bayi tersebut terdiri dari bibit pohon jambu biji, delima putih, dan majegau. Bibit diberikan melalui orang tua mereka di Sanglah, Denpasar, Sabtu (22/3/2008).

Menurut Koordinator Bali Kolaborasi untuk Perubahan Iklim, koalisi LSM yang mencetuskan ide World Silent Day, Agung Wardana, pemberian bibit pohon dilakukan sebagai simbol komitmen kepada kepada generasi yang akan datang akan kelestarian lingkungan di masa-masa mendatang.

Sayangnya, World Silent Day untuk pertama kalinya telah dilaksanakan di Bali pada 21 Maret 2008, belum berjalan optimal. Imbauan agar masyarakat mematikan peralatan elektronik selama 4 jam dari pukul 10.00 hingga 14.00, kurang mendapat reaksi positif dari masyarakat.

Apalagi pelaksanaan silent day hanya didasarkan pada kesadaran pribadi dan tidak ada suatu aturan ataupun sanksi. Namun Agung membantah hal tersebut sebagai kegagalan.

“Walaupun masyarakat berpemikiran ini masih gagal, tapi ini sebagai start awal. Kita lihat saja pemerintah yang memiliki program konversi minyak tanah ke elpiji saja banyak masyarakat yang tidak tahu, apalagi NGO seperti kita yang tidak mempunyai akses pada publik, tidak memiliki otoritas, tapi kita sebagai start awal mampu mewacanakan ini sehingga gaungnya juga menjadi internasional, walaupun di tingkatan lokal sendiri sangat minim keberpihakan dari pemerintah,” keluh Agung.

Hal senada diakui Penasehat Kolaborasi Masyarakat Sipil Bali Bhagawan Dwija. Menurut Bhagawan Dwija, pelaksanaan silent day merupakan langkah awal dan hasilnya baru dapat terlihat dalam 5-20 tahun kedepan.

“Kita tidak akan berhenti, terus akan kita lakukan nanti hasinya baru kita lihat 5 sampai 20 tahun kedepan . kalau kita tidak mulai sekarang kapan kita mulai Walaupun riaknya tidak terlalu besar , kita akan mulai sosialisasikan,” tandasnya.

Hari hening sedunia yang mengambil konsep kearifan lokal masyarakat Bali yang disebut dengan Nyepi ini diharapkan akan menjadi salah satu agenda dunia dalam upaya membangun rencana aksi yang nyata dalam mengantisipasi ancaman perubahan iklim.

Salah seorang orang tua bayi yang lahir tepat pada tanggal 21 Maret, Ary Wungsu mengakui pada dasarnya mengetahui pelaksanaan hari hening sedunia, tetapi tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai tata cara pelaksanaan hari hening sedunia.

“Tahu, tapi tidak sedetil seperti ini. Cuma dilihat di pamflet-pamflet dan baliho . bisa dibilang belum begitu jelas semua,” terangnya. (Ni Komang Erviani/Sindo/pie)

About erviani

Jatuh cinta dengan dunia jurnalistik sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Indikator, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sempat bekerja untuk Harian Warta Bali, 2003 - 2005, Koresponden Majalah GATRA untuk wilayah Bali, anggota redaksi Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL, TPI, dan Koran Seputar Indonesia. Menulis lepas kini menjadi aktivitas keseharian. Kini aktif sebagai kontributor untuk beberapa media yakni Bali Daily-The Jakarta Post, Mongabay Indonesia, dan Khabat Southeast Asia.
This entry was posted in Lingkungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s